Lensa Persepsi

Dale Chihuly adalah seorang seniman gelas ternama AS. Karya-karya Chihuly bisa dinikmati di Museum Seni Metropolitan di New York sampai ke hotel Bellagio yang terkenal di Las Vegas. Tiap tahun, studio Chihuly mengeluarkan ribuan karya seni yang bernilai ribuan USD untuk sebuah mangkok biasa, puluhan ribu USD untuk sebuah vas, dan lebih dari $1 juta untuk karya yang bisa dinikmati di lobi hotel Bellagio.

dale-chihuly

Kisah Chihuly ini menarik karna dia baru menjelma menjadi seorang seniman ternama setelah mengalami kecelakaan yang membutakan sebelah matanya. Setelah sebelah matanya harus ditutup bagai bajak laut Karibia, Chihuly berhasil membangun bukan saja sebuah perusahaan yang menguntungkan, tetapi mengubah pandangan orang terhadap seni gelas.

Mengapa kecelakaan tersebut mampu mengubah jalan hidup Chihuly menjadi lebih baik? Jawabannya terletak pada satu kata ini: persepsi. Kecelakaan tersebut ternyata mengubah persepsi Chihuly terhadap rengsangan visual, dan perubahan persepsi tersebut membuat Chihuly mampu memandang dunia dengan cara yang berbeda dan unik.

Masing-masing mata kita sebenarnya menerima gambar berbentuk dua dimensi (2D). Perbedaan gambar 2D yang masuk dari mata kiri dan mata kanan itulah yang kemudian diolah oleh otak untuk menghasilkan gambar tiga dimensi (3D). Kebutaan pada salah satu mata akan menyebabkan penglihatan 3D kita terganggu. Karena Chihuly melihat dunia dengan persepsi yang berbeda (melalui hanya sebelah mata), maka dia pun dapat menghasilkan karya indah dengan bentuk yang tidak umum.

Persepsi adalah proses mental untuk mengolah rangsangan yang diterima. Kita sering kali menganggap persepsi sama dengan rangsangan yang diterima. Dengan kata lain, kita menganggap otak melihat apa yang dilihat oleh mata, dan mendengar apa yang didengar oleh telinga. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Bayangkan ketika Anda mematikan lampu kamar sebelum tidur. Apa yang terjadi saat lampu dimatikan? Tentu saja ruangan berubah menjadi gelap, dan untuk sesaat Anda tidak bisa melihat apa pun. Barulah selang beberapa detik kemudian, penglihatan Anda mulai pulih. Anda tetap tidak bisa melihat sejelas saat ruangan terang benderang, tapi Anda pasti mulai bisa membedakan mana meja dan mana kursi, juga posisi dinding atau ranjang. Pertanyaannya, mengapa bisa demikian?

Di sinilah bekerjanya proses persepsi. Otak kita tidak sekadar ‘melihat’ apa yang dilihat mata. Ketika mata kita menerima rangsangan visual, gambar tersebut akan diteruskan ke kornea mata yang berfungsi sebagai lensa. Sinyal cahaya tersebut kemudian diteruskan ke bagian otak yang disebut thalamus, yang berfungsi bagaikan resepsionis yang menerima dan membagi-bagikan sinyal ke tempat yang sesuai untuk diproses. Untuk informasi visual, sinyal tersebut dialihkan ke visual cortex yang terletak di bagian occipital lobe, persis di belakang kepala. Makanya jangan heran bila bagian belakang kepala Anda terbentur, Anda akan merasa melihat bintang-bintang yang berputar di atas kepala, karna benturan keras akan merusak keseimbangan pusat penglihatan.

Proses persepsi belum berhenti sampai di sana. Visual cortex memiliki sekitar 30 area berbeda untuk mengolah jenis informasi visual yang berbeda. Jika ada informasi yang kurang atau ambigu, selama proses tersebut, otak akan mencoba mengisi kekurangan tersebut berdasarkan informasi lama yang disimpannya. Selain itu, tidak semua informasi yang masuk akan diteruskan. Sebagian besar informasi tersebut akan memudar atau diabaikan. Namun otak kita mampu menerka bentuk dan warna obyek yang hilang, yang membuat kita bisa ‘melihat’ obyek-obyek yang mestinya tidak masuk melalui lensa mata.

Otak bukan saja perpanjangan dari lensa mata, namun sekaligus bertindak sebagai perangkat lunak yang mampu mengolah gambar sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang sudah kita rekam sebelumnya. Persepsi visual, tidaklah sama dengan apa yang kita lihat melalui lensa mata. Dunia ‘objektif’ yang kita lihat sebenarnya adalah hasil konstruksi ‘subjektif’ otak kita.

orang-buta-dan-gajah

Proses pengolahan persepsi indra kita sebagian memang ditentukan secara genetik, tapi sebagian besarnya lagi merupakan hasil dari pembelajaran selama bertahun-tahun, baik dari pengetahuan atau pengalaman. Oleh sebab itu, proses persepsi antara satu individu dengan individu lainnya memiliki perbedaan. Meski begitu, secara umum masih ada hal-hal yang obyektif (bagi mayoritas orang) seperti warna, rasa, suhu, dan bau. Hal-hal tersebut termasuk dalam persepsi indra.

Selain persepsi indra, ada juga persepsi jenis lain, yaitu persepsi kognitif. Persepsi ini adalah cara pandang kita terhadap dunia, atau sudut pandang yang kita gunakan untuk menilai sebuah situasi atau masalah. Umumnya, persepsi ini dibentuk melalui proses pembelajaran sejak kita kecil. Persepsi kognitif ini lebih bervariasi lagi antar individu. Variasi ini timbul dari perbedaan suku, agama, lingkungan geografi, atau tingkat sosioekonomi kita.

Persepsi kognitif, meski lebih fleksibel dibanding persepsi indra yang sangat bergantung pada fisik individu, ternyata tidak gampang diubah. Alasan utamanya adalah karena kita jarang menyadarinya. Tanpa ada kesadaran, kita akan menganggapnya sudah demikian adanya. Inilah yang sering kita sebut sebagai nasib, takdir, kodrat, atau istilah-istilah senada lainnya. Apa yang kita sebut sebagai ‘jati diri’ ternyata tidak melulu ditentukan oleh gen, melainkan juga kesadaran, bahwa ‘diri’ kita dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman, dan lingkungan.

Kita terkadang juga menganggap orang lain memiliki persepsi kognitif yang sama dengan kita. Itulah kenapa saat ada dua pihak yang berdiskusi atau berdebat, seringkali tidak nyambung satu sama lain. Karena itu sebelum berdiskusi atau berdebat, ada baiknya menyamakan persepsi terlebih dahulu agar apa yang disampaikan oleh satu pihak dapat dimengerti oleh pihak lainnya.

“Baik, buruk, benar dan salah adalah hal-hal yang relatif.” ~ Gue

Alasan lain mengapa persepsi kognitif sulit diubah adalah karena mayoritas dari kita sebenarnya terkondisi memakai ‘lensa’ pihak lain saat berpikir. Pihak lain tersebut bisa jadi adalah agama, pemerintah, ideologi, orang tua atau guru kita. Dari kecil mereka sudah memasangkan ‘lensa persepsi’ mereka di pikiran kita, dan meyakinkan kita bahwa lensa yang mereka berikan adalah lensa yang terbaik. Setelah lama memakai lensa-lensa tersebut, kita jadi lupa bahwa lensa yang mereka berikan kepada kita adalah lensa yang sebenarnya bisa digonta-ganti.

Sekarang Anda mengerti kan kenapa ada orang yang suka ngotot dan memaksakan pendapatnya terhadap sesuatu? Sekarang Anda mengerti kan mengapa belajar banyak hal dan mengalami banyak hal itu penting? Sekarang Anda mengerti kan bahwa ‘jati diri’ bukan hanya harus dicari, tapi juga dibentuk?

Sekarang, sudahkah Anda mempunyai banyak koleksi lensa persepsi?

Referensi:
‘Ketika Archimedes Berteriak “EUREKA!”‘ ~ It Pin Arifin

Image source: Google

5 thoughts on “Lensa Persepsi

  1. Pingback: Akal dan Jiwa (Bagian I) | Free Thinker

  2. Pingback: Produk Imajinasi | Teman Merawat Peristiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s