Mukjizat (Part III)

Dialog yang tak meyakinkan tersebut diharapkan dapat menunjukkan esensi konflik antara sains dan agama ketika konflik tersebut tiba pada masalah-masalah supra-natural. Orang religius, yang senang dengan gagasan tentang perbuatan Tuhan dan melihat semua karya Tuhan di sekelilingnya setiap hari, tidak melihat sesuatu yang tak pantas tentang peristiwa-peristiwa mukjizat karena semua itu hanya sisi lain perbuatan Tuhan di dunia. Sebaliknya saintis yang lebih senang memandang dunia beroperasi menurut hukum alam, akan memandang mukjizat sebagai ‘perilaku salah’ (misbehaviour) peristiwa patologis yang mengotori kelembutan dan keindahan alam. Mukjizat merupakan sesuatu yang akan dihindari oleh kebanyakan saintis.

believe-ufo

Tentu, bukti mukjizat itu sangat kontroversial. Jika mukjizat harus diterima semata-mata berdasarkan kesaksian yang ada, tidak ada alasan yang bagus untuk menolak sekumpulan klaim lain (UFO, hantu, lekukan-garpu, pembacaan-pikiran, misalnya) yang juga sama-sama disaksikan. Bahkan, sekiranya seorang saintis dirayu untuk menerima mukjizat, maka tidak ada garis pemisah yang jelas antara mukjizat dan apa yang sekarang dikenal dengan paranormal.

Ada suatu minat besar dan terus tumbuh terhadap fenomena paranormal, dari lekukan metal hingga ESP. Beberapa paranormal melengkapi bahasan mereka dengan pengertian-pengertian teologis. Fenomena, sekalipun dalam kasus penyembuhan, dipandang sebagai ‘mukjizat tak bertuhan.’ Kepercayaan dan histeria primitif yang menyertai banyak darmawisata ke paranormal berperan untuk memerosokkan agama. Suplemen surat terkenal Sunday suatu ketika memperbandingkan Yesus Kristus dengan Uri Geller. Sayangnya banyak keajaiban yang dilaporkan benar-benar memiliki gaya akrobatik musik gedungan. St. Joseph dari Cupertino, misalnya, konon sangat malu dengan saudara-saudaranya karena kecenderungannya terbang ke udara ketika beribadah, sehingga dia dibatasi pada selnya untuk tujuan massa.

Menarik untuk dicatat bahwa banyak simbol peristiwa keagamaan yang diduga supra-natural telah muncul kembali di kalangan para pemuja modern UFO. Sebagai contoh, lihatlah kisah para saksi yang mengklaim telah disembuhkan secara tiba-tiba dari keluhan medis yang lama setelah bertemu dengan para penghuni UFO, atau kadang-kadang hanya dengan melihat UFO itu sendiri.

Terbang dengan kekuatan supra-natural juga memainkan peran penting. Kecepatan yang tenang dan tentram di langit, piring terbang sasaat diperkuat, kita yakinkan, bukan dengan bantuan roket sederhana atau motor kekuatan yang keras, tetapi melalui netralisasi gravitasi bumi. Kadang-kadang para pengendara UFO itu sendiri terbang tanpa beban berat pada tingkatan yang bawah.

Jelasnya, fenomena udara, terbang dan daya penyembuhan berakar mendalam pada jiwa manusia. Pada masa magis, kekuatan-kekuatan tersebut sangat dominan dan jelas. Bersamaan dengan berkembangnya agama yang terlembaga, kekuatan itu menjadi lebih halus dan redam, tetapi unsur awalnya yang kuat tidak pernah tenggelam dari permukaan. Sekarang, dengan runtuhnya agama-agama yang terlembaga, kekuatan di atas kembali mengemuka dalam samaran teknologi, dengan menggunakan bahasa pesawat ruang angkasa dan sains palsu, bidang kekuatan misterius dan pikiran atas materi–sebuah sintesis poliglot atas khayalan primitif dan fisika era ruang angkasa.

Mukjizat selalu menjadi tujuan showbiz agama, dan duduk kokoh berdampingan dengan fenomena paranormal lainnya, yang kebanyakan, seperti diabolisme, tampak sangat tak mengenakkan. Orang beriman memiliki dua tugas ganda yang sulit, pertama merayu orang skeptis bahwa fenomena mukjizat itu memang terjadi, yang merupakan sebuah tugas yang menakutkan, mengingat sangat diragukannya sifat sebagian besar bukti, dan kemudian meyakinkannya bahwa mukjizat secara langsung berkaitan dengan Tuhan. Ini berarti menerima seluruh peristiwa supra-natural (bahkan yang tidak menyenangkan sekalipun) sebagai perbuatan Tuhan, atau membuat pembedaan yang tegas antara mukjizat Tuhan dan lainnya. Dalam era di mana ESP begitu akrab seperti ABC, kebanyakan mereka yang yakin terhadap mukjizat agaknya lebih menaruh uang mereka pada daya pikiran ketimbang kekuatan Tuhan.

Referensi: God and the New Physics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s