Debat Teologi Ioanes Rakhmat vs Budi Asali

Tadi malam, ketika saya sedang asyik berselancar di dunia maya, saya tidak sengaja menemukan arsip debat ini di sebuah blog. Ini adalah perdebatan teologi via internet antara Dr. Ioanes Rakhmat, sang Teolog Liberal dengan Pdt. Budi Asali, M. Div dari GKRI Golgotha.

candle

Arsip debat di blog Dede Wijaya ini (sejauh yang saya temukan) ada 7 bagian.

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 1)

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 2)

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 3)

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 4)

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 5)

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 6)

Debat Teologi Ioanes Rakhmat VS Budi Asali (Part 7)

Oke, sejujurnya saya memang tidak membaca debatnya secara keseluruhan. Saya hanya membaca garis besarnya saja. Yang saya tahu, kedua orang ini memiliki pengetahuan Alkitab yang luar biasa. Pertentangan-pertentangan yang timbul dalam debat tersebut saya pikir adalah masalah penafsiran dan pemahaman (tentang ayat-ayat alkitab) tiap orang yang berbeda satu sama lain. Di luar itu semua, saya malah lebih tertarik dengan bagaimana kedua orang ini menyampaikan argumen-argumennya.

Saya punya pendapat pribadi tentang kedua orang tersebut berdasarkan luapan emosi yang saya rasakan saat membaca tulisan mereka dalam debat ini. Mungkin pendapat kita sama? Atau malah berbeda?😀

Ah, silakan dibaca dulu arsip debatnya. Dan kalau ada waktu, mari kita berdiskusi di kolom komentar.😀

11 thoughts on “Debat Teologi Ioanes Rakhmat vs Budi Asali

  1. Budi Asali berdebat dengan logika yang tidak bisa saya pahami. Dan Budi Asali berdebat dengan cara yang tidak sopan dan penuh kata kata kasar

    • Mengapa Anda tak paham? Karena logika Anda terbatas. Yg disampaikan Pak Budi adalah Logika Alkitabiah, bukan Logika manusia yang sudah tercemar dosa. Hanya Roh Kuduslah yang mampu membuat Anda tunduk pada logika yang Alkitabiah yang penuh peristiwa – peristiwa metafisik yang tak dapat dipahami manusia.

  2. kebenaran Tuhan itu mutlak, sehingga suatu paham yang menentang kebenaran Tuhan adalah sesat! Ioanes Rakhmat menafsirkan Alkitab, tetapi TIDAK BERDASAR Alkitab melainkan berdasarkan sains dan logikanya. Bahkan, seenaknya sendiri membuang ayat – ayat Alkitab yg tak sesuai dengan logikanya. Sedangkan Pak Budi walaupun kata – katanya kasar tapi beliau menafsirkan SESUAI Alkitab. Sehingga saya amat mendukung Pak Budi. Acapkali Yesus menggunakan kata – kata “Ular Beludak” untuk yang mengajarkan kesesatan, tak masalah penggunaan kata – kata kasar untuk pengajar yang tak mengajarkan ajaran Alkitab sebagaimana mestinya.

  3. Memang seru perdebatan di atas , saya sangat memahami keberadaan Bapak Ioanes Rakhmat, isi dari pemikiran Bapak Ioanes Rahmat adalah kejujuran yaitu mengatakan apa adanya secara lugas tegas tanpa menutup nutupi yang benar dia nyatakan benar atau sebaliknya. Kalau Bapak Budi Asali saya nilai masih kurang affair ( ma’af kalau bilang bohong kok kurang etis ) , beliau masih mengacu pada sesuatu yang dijadikan doktrin paten yang nggak bisa diganggu gugat alias foto copian. Tolong lah Bapak Budi Asali jangan terpaku pada satu sudut saja, mohon di kaji dengan cermat dari sudut manapun. Sebab segala ilmu di muka bumi ini harus dikaji. Ma’af saya tidak memihak Bapak Ioanes Rakhmat tapi ini fakta yang membuat saya tertarik kepada Bapak Ioanes Rahmat, yaitu kejujuran.

  4. Saya seorang Kristen Saksi Yehuwa dan saya juga sudah baca 7 bagian perdebatan antara Ioanes Rakhmat dengan Budi Asali itu. Seandainya saya “hadir” langsung dalam sesi debat mereka, pasti ada banyak yang akan saya pertanyakan atau komentari, khususnya berkaitan dengan apa yang saya istilahkan sebagai ‘Aspek Utama Amanat Agung Yesus (Mat 28:18-20) dan Isu Keselamatan Manusia’.

    Di kesempatan ini saya sengaja mampir, bukan untuk berdebat dengan teman-teman, tapi sekedar untuk memperlihatkan bahwa kami, Saksi-Saksi Yehuwa, memiliki “jawaban Alkitab” terhadap hampir semua pertanyaan penting yang pernah diajukan oleh orang-orang, baik mengenai: Allah, Yesus Kristus, Manusia, Kerajaan Allah, Doa, Keluarga, Kehidupan, Kematian, Wahyu, Penderitaan, Iblis, dsb. Tanpa bermaksud mempromosi, sebenarnya teman-teman bisa membaca beragam topik tersebut di ‘Perpustakaan Online’ [bisa juga mengunduh banyak sekali materi gratis lainnya] dengan berkunjung ke situs web kami http://www.jw.org/id.

    Sebagai contoh, di bawah ini saya mem-forward ulang sebuah ulasan menarik, dengan judul: “APA HARAPAN UNTUK LELUHUR SAYA?”

    {NOTE: Kecuali disebutkan sumbernya, semua kutipan ayat dalam tulisan ini diambil dari Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru. Selamat membaca.}

    ***
    BEBERAPA waktu lalu, ada sebuah judul utama yang menarik di koran Korea, The Chosun Ilbo. Judulnya berupa pertanyaan ini: ”’Shim Cheong yang Mengagumkan’ Tidak Tahu Apa-Apa tentang Yesus—Apakah Dia Masuk Neraka?”

    Judul utama ini menarik karena Shim Cheong adalah wanita muda dalam cerita rakyat Korea yang mengorbankan nyawanya untuk menolong ayahnya yang buta. Karena itu, dia sangat disukai dan banyak orang memujinya. Di Korea, Shim Cheong dianggap sebagai contoh putri yang berbakti.

    Bagi banyak orang, tidak adil dan tidak pantas kalau orang seperti itu dihukum dalam api neraka hanya karena dia belum menjadi orang Kristen terbaptis. Lagi pula, peristiwa dalam cerita itu terjadi lama sebelum berita tentang Kristus masuk ke desanya.

    Artikel itu berisi wawancara dengan seorang pemuka agama juga. Dia ditanya apakah orang-orang yang sudah meninggal yang tidak sempat belajar tentang Yesus akan dihukum dalam api neraka. Jawabannya? ”Kita tidak tahu. Kita percaya saja bahwa Tuhan pasti menyediakan sesuatu [untuk orang seperti mereka].”

    SYARAT UNTUK SELAMAT

    The New Catholic Encyclopedia menyatakan, ”Baptisan perlu untuk selamat. Seperti yang Kristus sendiri katakan, jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh Suci, ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:5).” Karena itu, beberapa orang yakin bahwa orang yang meninggal tanpa terlebih dahulu dibaptis akan dilemparkan ke dalam api neraka atau menderita dengan cara lain setelah kematiannya.

    Tapi, ada banyak yang menganggap ajaran tadi tidak masuk akal. Jutaan orang telah meninggal tanpa tahu tentang Alkitab. Apakah pantas jika mereka disiksa selamanya? Apa yang Alkitab katakan mengenai ini?

    HARAPAN YANG ALKITAB JANJIKAN

    Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Allah tidak melupakan orang-orang mati yang belum mengetahui syarat yang Ia tetapkan. Kisah 17:30 meyakinkan kita, ”Allah telah mengabaikan zaman kurang pengetahuan demikian.” Maka, apa yang Alkitab janjikan bagi orang-orang yang sudah meninggal sebelum belajar tentang Allah?

    Jawabannya dapat kita temukan dalam kata-kata Yesus kepada penjahat yang mati di sebelahnya. Pria itu berkata kepada Yesus, ”Ingatlah aku apabila engkau masuk ke dalam kerajaanmu.” Apa tanggapan Yesus? ”Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu hari ini: Engkau akan bersamaku di Firdaus.”—Lukas 23:39-43.

    Apakah Yesus menjanjikan harapan ke surga kepada pria tersebut? Tidak. Pria itu belum ”dilahirkan kembali” dari air dan roh, yang merupakan syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan surga. (Yohanes 3:3-6) Tetapi, Yesus berjanji bahwa ia akan hidup lagi, di Firdaus. Sebagai orang Yahudi, penjahat itu kemungkinan besar tahu tentang Firdaus di bumi—Taman Eden—yang digambarkan di buku pertama dalam Alkitab. (Kejadian 2:8) Janji Yesus ini memberinya harapan pasti bahwa ia akan dibangkitkan ketika Firdaus sudah dipulihkan di bumi.

    Sebenarnya, Alkitab menjanjikan ”kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar”. (Kisah 24:15, Terjemahan Baru) ”Orang-orang yang tidak benar” adalah orang-orang yang tidak menjalankan kehendak Allah karena mereka belum mengetahuinya. Yesus akan membangkitkan penjahat yang tidak benar yang berbicara kepadanya. Dia juga akan membangkitkan jutaan, mungkin miliaran, orang yang meninggal sebelum mereka mengetahui kehendak Allah. Lalu, saat Firdaus terwujud di bumi, mereka akan diajar tentang kehendak Allah. Dan, mereka akan diberi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa mereka mengasihi Allah dengan menaati perintah-Nya.

    KETIKA ORANG-ORANG YANG TIDAK BENAR DIBANGKITKAN

    Ketika orang-orang yang tidak benar dibangkitkan, apakah mereka akan dihakimi atas dasar tingkah laku mereka dulu? Tidak. Roma 6:7 menyatakan, ”Ia yang mati telah dibebaskan dari dosanya.” Orang-orang yang tidak benar telah membayar lunas dosa mereka dengan kematian mereka. Karena itu, mereka akan dihakimi berdasarkan apa yang mereka lakukan setelah dibangkitkan, bukan berdasarkan atas apa yang mereka lakukan dulu sebelum tahu kehendak Allah. Manfaat apa saja yang bisa mereka dapatkan?

    Setelah kebangkitan, orang-orang yang tidak benar akan berkesempatan untuk belajar hukum Allah, yang dalam Alkitab digambarkan sebagai gulungan yang akan dibuka. Kemudian, mereka akan diperiksa ”sesuai dengan perbuatan mereka”, yaitu apakah mereka taat terhadap hukum Allah atau tidak. (Penyingkapan [Wahyu] 20:12, 13) Bagi orang-orang yang tidak benar tersebut, ini adalah kesempatan pertama mereka untuk mempelajari dan melakukan kehendak Allah, sehingga bisa meraih kehidupan abadi di bumi.

    Ajaran Alkitab ini telah membantu banyak orang untuk beriman lagi kepada Allah. Salah satunya adalah Yeong Sug. Dia dibesarkan sebagai penganut Katolik yang taat. Banyak anggota keluarganya adalah pastor. Dia masuk ke biara karena ingin menjadi seorang biarawati. Belakangan, dia meninggalkan biara itu karena kecewa setelah mengetahui kenyataan yang terjadi di sana. Terlebih lagi, dia tidak dapat menerima ajaran api neraka. Dia merasa bahwa menyiksa orang dalam neraka yang bernyala-nyala bukanlah tindakan yang adil dan pengasih.

    Kemudian, seorang Saksi Yehuwa memperlihatkan Yeong Sug kata-kata ini dalam Alkitab, ”Yang hidup sadar bahwa mereka akan mati; tetapi orang mati, mereka sama sekali tidak sadar akan apa pun, dan tidak ada upah lagi bagi mereka.” (Pengkhotbah 9:5) Saksi tersebut membantunya untuk menyadari bahwa leluhurnya tidak sedang disiksa dalam api neraka. Sebaliknya, mereka sedang tidur dalam kematian, menunggu kebangkitan.

    Karena tahu bahwa masih banyak orang belum pernah mendengar kebenaran Alkitab, Yeong Sug menanggapi dengan sepenuh hati kata-kata Yesus di Matius 24:14, ”Kabar baik kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk sebagai suatu kesaksian kepada semua bangsa; dan kemudian akhir itu akan datang.” Kini dia turut memberitakan kabar baik dan menceritakan harapan menakjubkan yang berdasarkan Alkitab ini kepada orang-orang lain.

    ”ALLAH TIDAK BERAT SEBELAH”

    ’Allah tidak berat sebelah,’ kata Alkitab, ’tetapi orang dari bangsa mana pun yang takut kepadanya dan melakukan apa yang benar diperkenan olehnya.’ (Kisah 10:34, 35) Inilah keadilan sempurna dari Allah, yang adalah ’pencinta kebenaran dan keadilan’.—Mazmur 33:5.

  5. Bila seseorang mengklaim sesuatu dgn menggunakan nama dan wibawa allah, orang ini umumnya tak tebuka pada kritik apapun, sebab baginya mengeritik dirinya sama dengan mengeritik allah sendiri.
    Budi Asali harusnya mencerminkan moral Yesus yang sabar, sopan dan tidak kasar. Bukan sebaliknya yang menyebabkan penilaian negatip padanya.
    Ioanes Rahkmat mengargumen pada sesuatu yang nyata berdasarkan hasil sains dan bukan pada mitos dan dogmatip.
    Sains tak pernah memaksa bahwa hasilnya harus dipercayai, dan tetap berkembang terus untuk menguak hal-hal yang mungkin akan bermanfaat bagi umat manusia.
    Kitab suci dibuat pada waktu sains belum berkembang. Kitab suci banyak jumlahnya sesuai dengan agama yang ada dibumi ini. Konsekuensinya Tuhannya banyak juga, lalu Tuhan mana yang paling benar, semuanya mengklaim yang paling benar. Selama semua saling menghargai maka akan terjadi kedamaian abadi. Tapi nyatanya tidakkan, saling menhujat saling membunuh. Pertanyaannya apakah masing-masing Tuhannya sedih atau senang dengan keadaan ini?

  6. perdebatan tentang peran akal dan iman dalam hal pengenalan akan Tuhan sudah ditampilkan di sepanjang sejarah kehidupan manusia, dan sampai saat ini masih polemik. Sangat menarik memang melihat perdebatan kedua tokoh di atas. Hanya saja, senantiasa masih terdapat jiwa lebih tepat, dan lebih benar dari pada yang lain.
    Saya hendak memberikan beberapa argumen, yang sebisa mungkin bisa jadi bahan pertimbangan dan informasi bagi kita.

    Pertama.
    Kita harus jujur, bahwa Alkitab kita (kitab suci Kristen) adalah proyek manusia dan budaya pada tempatnya yang berbeda. Namun, ilham Allah beserta mereka para penulis yang mempersaksikan tentang Dia, sehingga isi Alkitab menjadi tuntunan bagi pengikut-Nya. Alkitab kita tidak seperti kitab suci tetangga kita yang diklaim mutlak turun dari yang Mahakuasa. Alkitab tidak menuliskan segala sesuatu ajaran atau norma-norma yang sesempurna mungkin seperti yang diharapkan oleh kalangan pemikir-pemikir kini yang dengan semangat dan ambisiusnya memakai akalnya untuk meruntuhkan ajaran gereja yang dibangun dengan dasar Alkitab. Kebanggaan bagi pak pdt Budi yang tetap setia kepada Alkitab dalam segala perdebatannya.
    Kita telah tahu dan mengerti bahwa Alkitab dalam rangkaian perjalanan sejarah umat menjadi cerminan dan penuntun bagi setiap orang yang percaya agar tetap setia dan taat kepada-Nya. Mengapa kita baik orang sains, senantiasa berusaha mencari kebenaran yang berdasar pada ukurannya ? padahal Alkitab dengan eksklusifnya menyatakan bahwa Yesuslah sebagai dasar yang benar dari segala kebenaran yang ada (Itu menurut iman kami yang tetap setia kepada isi Alkitab).
    Benar memang bahwa akal adalah anugerah ALlah yang mulia yang diberikan kepada manusia untuk melanjutkan misi-Nya. Sehingga kita memiliki tempat yang berbeda dengan ciptaan yang lain. Karena ALlah yakin bahwa kita bisa jadi mitra-Nya. Peran akal sangat dikepentingkan dalam mengenal Allah dan sesama (Mrk. 12:28-34). Paulus bahkan memberikan penekanan tentang peran akal itu dalam 1 Kor. 14:15 berguna untuk memuji dan memuliakan Allah (realitanya bahwa Paulus adalah seorang yang pintar).
    1 Ptr. 1:13 malah lebih memperjelas tentang kuatnya pengaruh zaman yang akan meruntuhkan keberimanan setiap orang. Untuk itu ia berpesan bahwa setiap orang percaya diperintahkan untuk mempersiapkan akal budinya agar imannya tetap terjaga.
    Zaman kita memang zaman di mana sains dan teknologi jadi ratunya. Untuk itulah akal budi orang Kristen dipersiapkan agar tidak takluk oleh zaman. Namun, senantiasa menunjukkan eksistensinya di zaman yang mengancam keberimanan.
    Saya masih mahasiswa teologi dan saya telah mencoba melakukan pendekatan dalam rupa skripsi tentang bagaimana sebenarnya “mengasihi Allah dengan akal budi” dengan pendekatan biblis. Harap informasinya jikalau ada yang memiliki dan mengetahui tentang judul ini.

    Kedua.
    berbicara tentang debat yang mempersoalkan tentang keselamatan manusia. Secara ontologi gereja sudah memberikan rumusannya. Namun secara iman, Alkitab dan para hamba Tuhan telah mempersaksikannya. Salah satu debat yang khas akan bagaimana orang yang sebelumnya tidak mengenal Kristus apakah mereka selamat atau tidak. Iman saya berkata bahwa “saya tidak menyangkali bahwa hanya Yesuslah jalan satu-satunya kepada keselamatan, namun pada saat yang sama yang tidak akan membatasi karya Allah dalam penyelamatan-Nya”.
    Sangat susah dan rumit memang jikalau kita membicarakan wilayah kerja ALlah. Hal itu akan senantiasa menjadi misteri yang tidak bisa dipecahkan oleh manusia. Di situ memang jelas nampak perbedaan yang signifikan antara Allah dengna manusia. Manusia tidak akan pernah bisa mengenal Allah sesempurna mungkin. Apalah kita manusia ini sehingga dengan arogannya kita hendak mengupas rahasia Allah misteri itu. Bagiku hal yang demikian akan menghasilkan kekecawaan terhadap Allah. Sehingga memilih untuk tidak sepaham dan tidak mengikuti cara kerja Allah.

    Trima kasih.

  7. Menurut saya debat yang dimaksud sebaiknya masing2 pendeta melepas dulu keyakinannya terhadap yesus sehingga hasil akhir akan lebih fair dan objectif.

    • Pak Ioanes ada hal-hal yang cukup berada dalam otak anda saja dan tdk perlu diungkapkan secara vulgar. Toh anda pasti, saya ulangi lagi PASTI Tidak 100% benar. Otak manusia itu terbatas dan bisa menipu dan membuat kesimpulan yg keliru.Bukankah tujuan hidup kita untuk memperjuangkan kebaikan? Jadilah bijak. Maaf pak Ioanes, pendapat saya Mungkin anda sedang kecewa terhadap kehidupan ini. “LUPAKAN DIRIMU MAKA BEBANMU MENJADI LEBIH RINGAN.” SEMOGA TUHAN MEREDAKAN KEMARAHANMU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s