Bagaimana Saya Beragama

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya menyarankan Anda untuk membaca tulisan Pak Ioanes Rakhmat “Apakah saya seorang ateis?

Dis situ Pak Ioanes pun mengakui bahwa dirinya bukan ateis, walaupun ‘agama’ yang dia anut bukan salah satu dari agama yang diakui di negara kita.

Di postingan saya sebelumnya tentang “Ngaku Ateis?“, saya juga mengakui bahwa saya bukanlah ateis. Saya beragama, dan saat ini saya masih memeluk agama warisan orang tua saya, kristen. Saya akan tetap beragama, karna saya tidak munafik, juga perlu THR. Hahaa😐

Tapi dengan tegas saya katakan, saya menolak (banyak) ajaran agama saya yang sebenarnya sudah melekat di otak saya. Jika saya ke gereja bukan untuk mencari Tuhan. Tapi mungkin karna ga enak sama orang tua, saudara, dan lingkungan😐 Tuhan itu ada di mana-mana, tak perlu dicari. Tak perlu (terlihat) berdoa di gereja, karna Yesus sendiri mengajarkan agar berdoa di dalam kamar yang tertutup, di tempat yang tersembunyi.

gereja

Saya masih terlibat di kegiatan-kegiatan di gereja karna saya memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk bersosial dan berkomunitas. Agar dalam kekeluargaan di gereja, saya dapat berbagi dengan yang lainnya. Saya bersyukur gereja saya masih belum banyak ‘tercemar’. Saya bersyukur kekeluargaan di gereja saya masih tergolong kuat. Di luar itu, saya lebih memprioritaskan untuk berbagi dengan sesama. Saya ga punya motivasi lagi untuk mengkristenkan orang-orang. Apa yang orang percaya, biarlah tetap dipercaya. Saya ga akan menganggap diri saya, dan apa yang saya percaya, itu lebih baik dari orang lain. Saya berbuat baik, bukan supaya masuk surga. Bukan pula karna itu diwajibkan oleh agama.

Hal ini memang tak bisa saya lakukan terus-menerus. Mungkin suatu saat saya akan ‘keluar’. Tapi paling tidak saya sudah melakukan sesuatu.

Saya tau, topik tentang agama bukanlah topik yang menarik. Saya pun masih merasa jengah saat membuat tulisan ini. Tapi apakah kita akan memendamnya terus? Biar bagaimanapun juga kita harus berubah, karena dunia tempat tinggal kita ini pun terus berubah.

Dewasalah!

Kira-kira begitulah, bagaimana saya beragama.🙂

Update: Saat ini saya tidak percaya tuhan ada alias ateis.

2 thoughts on “Bagaimana Saya Beragama

  1. Pingback: Bagaimana Saya Beragama | CSC

  2. Pingback: Ateis Pragmatis | Free Thinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s