Kehendak Bebas dan Determinisme (Part I)

Ketika Newton menemukan hukum mekanikanya, banyak orang yang menilainya sebagai kematian konsep kehendak bebas. Menurut Newton, alam semesta bagaikan sebuah mesin jam raksasa, yang bergerak sepanjang jalan yang kaku dan tetap menuju suatu kondisi akhir yang tak dapat diubah. Gerak setiap atom diduga telah diputuskan di muka, dan ditetapkan semenjak permulaan waktu. Manusia hanya dilihat sebagai komponen mesin kompleks yang terperangkap dalam mekanika kosmik yang sangat besar. Kemudian muncul fisika baru dengan relativitas ruang dan waktunya serta ketidakpastian kuantumnya. Seluruh persoalan kebebasan memilih dan determinisme berpulang ke titik temunya.

freewill-&-determinism

Tampaknya ada sebuah antagonisme fundamental antara dua teori yang merupakan fondasi fisika baru. Di satu sisi, teori kuantum memberikan kepada pengamat suatu peran penting dalam hakikat realitas fisik. Banyak fisikawan mengklaim bahwa ada bukti eksperimen yang konkret berlawanan dengan gagasan ‘realitas obyektif’. Ini menawarkan kepada manusia suatu kemampuan unik untuk mempengaruhi struktur semesta fisik dengan cara yang tak terimpikan pada masa Newton. Di sisi lain, teori relativitas, yang melumpuhkan konsep waktu universal, masa lalu, masa kini dan masa depan absolut, membangkitkan suatu gambaran masa depan yang dalam pengertian tertentu telah ada. Jika masa depan ‘ada’, apakah itu berarti kita tak berdaya mengubahnya?

Dalam teori Newton lama, setiap atom bergerak sepanjang lintasan yang secara unik telah ditetapkan oleh daya-daya yang mempengaruhinya. Mekanika Newton, pada dasarnya, memungkinkan prediksi yang akurat tentang segala yang akan terjadi berdasarkan pada yang dapat diketahui pada satu saat. Ada suatu jaringan sebab dan akibat yang kaku, dari goncangan paling kecil molekul hingga ledakkan galaksi, telah ditentukan secara terperinci jauh di muka. Konsepsi mekanika inilah yang mendorong Pierre de Laplace menyatakan bahwa jika suatu wujud mengetahui pada satu saat posisi dan gerak setiap partikel dalam alam semesta, di tangan-Nyalah semua informasi yang penting untuk menghitung seluruh sejarah masa lalu dan masa depan alam semesta.

Namun, argumen ‘kalkulator Laplace’ tampaknya tidak terbuka dan tertutup. Pertama, ada masalah mengenai apakah otak dapat menghitung kondisi masa depannya sendiri. MacKay menegaskan bahwa prediksi yang utuh adalah mustahil, bahkan dalam mekanistik versi Newton. Karena andaikan seorang saintis-super dapat menghitung dengan tepat apa yang akan Anda perbuat pada kesempatan tertentu ke depan, secara logis hal itu tidak mendahului kehendak bebas dalam pengertian tertentu. Alasannya adalah bahwa, meskipun dia mungkin betul dalam prediksinya, dia tidak dapat menceritakan kepada Anda tentang prediksi itu (sebelum terjadi) tanpa mengutak-atik perhitungannya. Ketika dia menceritakan kepada Anda, misalnya, “Baik, Anda akan bertepuk tangan,” kondisi otak Anda secara tak terelakkan akan berubah dari kondisi sebelumnya ketika dia menceritakan kepada Anda prediksinya; yaitu, berubah karena informasi baru ini. Lalu Anda tidak memiliki alasan untuk meyakini prediksi tersebut, karena yang demikian itu didasarkan pada kondisi otak yang kini telah berubah. Dengan demikian, MacKay menegaskan bahwa betapapun kemungkinan perilaku Anda diprediksi, secara logis ia tetap tak dapat diprediksi bagi Anda dan tetap menyisakan setidak-tidaknya suatu unsur tentang apa yang biasanya dipahami sebagai kehendak bebas.

Kemudian, ada pertanyaan mengenai apakah alam semesta dapat diprediksi sepenuhnya melalui mekanika Newton. Kemajuan mutakhir dalam deskripsi matematis tentang sistem mekanika telah menunjukkan bahwa beberapa jenis daya bertanggung jawab terhadap ketidakstabilan akut semacam itu dalam evolusi sistem tertentu, sehingga sifat dapat diprediksi menjadi suatu konsep yang tidak bermakna. Namun, argumen yang paling penting terhadap kemungkinan yang utuh dari sifat dapat diprediksi adalah faktor kuantum. Menurut prinsip dasar teori kuantum, alam secara inheren tidak dapat diprediksi. Prinsip ketidakpastian Heisenberg yang terkenal meyakinkan kita bahwa selalu ada indeterminisme yang tidak dapat direduksi dalam kerja sistem sub-atom. Dalam dunia mikro, peristiwa-peristiwa terjadi tanpa sebab yang jelas.

Determinisme berkaitan dengan pertanyaan, apakah setiap peristiwa sepenuhnya ditentukan oleh suatu sebab terdahulu? Ia sama sekali tidak menyebutkan apakah peristiwa itu ada. Yang lebih penting lagi, masa depan akan terjadi sejadi-jadinya terlepas apakah ia ditentukan oleh peristiwa terdahulu atau tidak. Sama sekali tidak jelas bahwa alam semesta yang indeterministik sebenarnya adalah apa yang dikehendaki untuk membangun kehendak bebas. Dapatkah Anda bertanggung jawab atas tindakan Anda jika tindakan-tindakan itu tidak disebabkan oleh Anda? Para pendukung kehendak bebas akan menegaskan bahwa aktivitas seseorang ‘ditentukan’, misalnya, oleh karakter, kecenderungan dan kepribadiannya.

Andaikan seorang yang patuh dan tenang tiba-tiba melakukan tindak kejahatan. Kaum indeterminis akan mengatakan, “Itu merupakan suatu peristiwa spontan, tanpa sebab sebelumnya. Anda tidak dapat mengutuk orang tersebut.” Kaum determinis, di sisi lain akan meyebut orang tersebut bertanggung jawab, tetapi menghiburnya dengan fakta bahwa dia dapat direhabilitasi melalui pendidikan, persuasi, psikoterapi, obat dan lain sebagainya, yang dapat menyebabkannya bertindak berbeda di masa depan. Sesungguhnya, pesan inti kebanyakan pemikiran keagamaan adalah bahwa kita dapat meningkatkan karakter kita. Akan tetapi, hal itu hanya mungkin sepanjang karakter masa depan kita ditentukan oleh keputusan dan tindakan kita sebelumnya. Penting untuk disadari bahwa determinisme tidak menunjukkan peristiwa terjadi lepas dari tindakan kita. Sebagian peristiwa terjadi karena kita menentukannya.

Determinisme tidak harus dicampuradukkan dengan doktrin fatalisme, yang menyatakan bahwa peristiwa di masa depan sepenuhnya di luar kendali kita. “Semua itu telah tertulis dalam bintang-bintang,” tegas kaum fatalis. “Apa yang akan terjadi terjadilah.” Orang memang tidak bisa mencegah perang dunia atau menghalangi kehancuran kota karena dampak sebuah meteor yang besar. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita terus mempengaruhi hasil peristiwa sekecil apapun caranya.

Lagi-lagi, kita melihat kesalahan besar tentang determinisme, yang menyebabkan begitu banyak orang yakin bahwa faktor kuantum jelas-jelas menghapus gagasan tersebut. Tentu keinginan kita terhadap kebebasan meliputi persyaratan bahwa apa yang kita putuskan benar-benar terjadi karena kita sebabkan. Akan tetapi, dalam suatu alam semesta yang benar-benar deterministik, keputusan itu sendiri telah ditetapkan sebelumnya. Dalam alam semesta semacam itu, meskipun kita dapat bertindak sesuka kita, apa yang kita sukai berada di luar kendali kita. Argumentasinya berjalan seperti berikut. Ketika Anda memilih minum teh, bukan kopi, keputusan tersebut disebabkan pengaruh lingkungan (seperti, teh lebih murah), faktor fisiologis (kopi memiliki stimulus lebih kuat), kecenderungan kultural (teh adalah minuman tradisional), dan lain sebagainya. Determinisme menegaskan bahwa setiap keputusan (setiap keinginan) ditentukan terlebih dahulu. Jika demikian, betapapun babasnya Anda memilih teh atau kopi, realitasnya pilihan Anda telah ditetapkan sejak Anda lahir, bakan sebelumnya. Dalam alam semesta yang benar-benar deterministik, segala sesuatu telah ditetapkan semenjak ‘penciptaan’. Apakah ini membuat kita kurang bebas?

Masalahnya adalah sulitnya memutuskan dengan pasti jenis kebebasan apa yang kita inginkan. Salah satu pernyataan menyebutkan bahwa kebebasan sejati dalam memilih teh atau kopi berarti jika kondisi yang mendorong pada pilihan tersebut terulang, dengan segala sesuatu di alam semesta persis sama (termasuk kondisi otak Anda, karena otak Anda merupakan bagian dari alam semesta), maka ada kemungkinan bahwa Anda akan memilih secara berbeda penampilan yang terulang. Hasil semacam itu jelas tidak sejalan dengan determinisme. Akan tetapi, bagaimana versi kebebasan utama dapat diuji? Bagaimana bisa alam semesta dibentuk kembali dalam bentuknya yang sama? Jika itu yang dimaksudkan dengan kebebasan, eksistensinya pastilah persoalan kepercayaan murni.

Mungkin kebebasan berarti sesuatu yang lain: ketidakmungkinan untuk diprediksi dalam pemahaman MacKay? Apa yang akan Anda lakukan ditentukan oleh unsur-unsur di luar kontrol Anda, tetapi Anda tidak pernah tahu, sekalipun dalam prinsip ini, apa sebenarnya yang Anda lakukan. Cukupkah ini memenuhi keinginan akan kehendak bebas?

Bersambung ke Part II

5 thoughts on “Kehendak Bebas dan Determinisme (Part I)

  1. Pingback: Kehendak Bebas dan Determinisme (Part II) | Free Thinker

  2. Pingback: Kebetulan atau Perencanaan? | Free Thinker

  3. Pingback: Akal dan Jiwa (Bagian I) | Free Thinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s