Kehidupan (Bagian II)

life

(Lanjutan dari Bagian I)

Dalam kasus sistem yang hidup, tak seorang pun menyangkal bahwa organisme merupakan kumpulan atom-atom. Kesalahannya adalah mengandaikan bahwa organisme tidak lain hanya kumpulan atom. Klaim semacam itu lucu seolah-olah menegaskan bahwa simfoni Beethoven hanyalah kumpulan not, atau bahwa novel Harry Potter hanyalah kumpulan kata-kata. Sifat kehidupan, tema nada atau alur cerita itulah yang disebut sifat-sifat ‘yang muncul’. Sifat-sifat itu muncul hanya pada tingkat struktur yang kolektif, dan tidak bermakna pada tingkat komponen. Deskripsi komponen tidak bertentangan dengan deskripsi holistik; dua sudut pandang yang saling melengkapi, yang masing-masing absah pada tingkatannya sendiri-sendiri. (Jika kita menyelidiki teori kuantum, kita akan menemukan lagi gagasan tentang deskripsi yang berbeda tetapi saling melengkapi atas satu sistem.)

Arti penting perbedaan tingkat ini sudah banyak dikenal oleh para operator komputer. Komputer elektronik modern terdiri dari jaringan rumit dari kontak dan saklar elektrik yang dikitari oleh urutan sengatan listrik yang kompleks. Itulah tingkat deskripsi perangkat kerasnya (hardware). Di sisi lain, aktivitas elektrik yang sama menggambarkan penyelesaian seperangkat persamaan matematis atau analisis atas jalannya peluru. Deskripsi semacam itu, yang berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada perangkat keras, menggunakan konsep-konsep semisal antara lain program, operasi, simbol, input, output, jawaban, yang tentu tak bermakna pada tingkat perangkat keras. Komponen saklar dalam komputer tidak menyala untuk menghitung kuadrat, misalnya. Ia menyala karena voltasenya benar dan hukum fisika mengharuskannya begitu. Desktipsi program tingkat tinggi tentang cara kerja komputer disebut tingkat perangkat lunak (software). Baik deskripsi perangkat keras maupun perangkat lunak sama-sama menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam komputer, yang masing-masing sesuai dengan jalannya, tetapi pada tingkat konseptual yang benar-benar berbeda.

Semut memiliki struktur sosial yang sangat terperinci dan rapi, yang didasarkan pada pembagian kerja dan tanggung jawab kolektif. Meskipun masing-masing individu semut memiliki daftar perilaku yang sangat terbatas, namun koloni secara keseluruhan menunjukkan tingkat tujuan dan kecerdasan yang luar biasa. Setiap semut hanya ‘diprogram’ secara otomatis untuk melaksanakan seperangkat kerja yang sederhana. Ini sama dengan tingkat deskripsi perangkat keras.

Meskipun kita terbiasa menganggap semut-semut individual sebagai organisme utama, ada suatu pengertian di mana koloni secara keseluruhan juga merupakan organisme. Sungguh, badan kita juga koloni, yang terdiri dari milyaran sel individual yang bekerjasama dalam organisasi kolektif. Kesatuan sel-sel ini lebih kuat ketimbang semut dalam koloni, tetapi prinsip-prinsip dasar yang sama tentang pembagian kerja dan tanggung jawab kolektif juga tampak jelas. Namun, hal penting untuk disadari adalah bahwa seperti halnya dalam koloni semut terdapat sifat-sifat holistik yan muncul, demikian juga ada sifat-sifat seperti itu dalam koloni sel. Mengatakan bahwa koloni semut hanyalah kumpulan semut sama dengan mengabaikan realitas perilaku koloni. Sama sia-sianya jika kita mengatakan bahwa program komputer tidak nyata, seab program tersebut hanyalah sengatan listrik. Demikian pula, mengatakan bahwa manusia tidak lain daripada kumpulan sel, yang berarti hanya unsur-unsur DNA dan sebagainya, yang pada gilirannya hanya sekadar rangkaian atom dan karenanya berkesimpulan bahwa hidup tidak memiliki makna, adalah omong kosong yang kacau. Kehidupan adalah suatu fenomena yang holistik.

Gagasan bahwa beberapa sifat magis pasti dianugerahkan pada materi tak hidup agar ‘membuatnya hidup’ adalah menyesatkan seperti halnya mengandaikan bahwa saklar elektrik pasti diberi ‘daya menghitung’ atau semut dikaruniai ‘semangat koloni’, sebelum sistem-sistem ini dapat berfungsi secara kolektif. Jika ada kemungkinan untuk mengkonstruksi secara artifisial suatu bakteri yang sempurna dengan merajut atom-atom individual dalam pola yang tepat, tak syak lagi bahwa setiap unsur seakan-akan ‘hidup’ seperti bakteri yang alami.

Fisika telah berkembang untuk memenuhi fenomena holistik. Termodinamika adalah masalah yang memiliki arti sangat penting bagi kehidupan, dan yang sering dapat membuat proses biologis dalam sorotan yang paradoks. Paradoks tersebut berkaitan dangan esensi makhluk hidup, yaitu keteraturan. Hukum kedua termodinamika, yang mengatur perubahan dalam keteraturan, mensyaratkan kekacauan agar selalu meningkat. Akan tetapi perkembangan kehidupan merupakan contoh klasik tentang keteraturan yang meningkat. Karena sistem hidup telah berkembang selama sejarah bumi menjadi bentuk yang lebih kompleks dan terperinci, maka tingkat keteraturan naik. Bagaimana hal ini bisa diselaraskan dengan hukum kedua? Apakah ini menjadi bukti yang berlawanan bahwa agen Ilahi bekerja, dengan memaksakan keteraturan (secara menakjubkan) pada perkembangan organisme biologis?

Penyelidikan yang lebih mendalam menunjukkan bahwa tidak perlu ada kontradiksi sama sekali antara biologi dan hukum kedua termodinamika. Yang kedua ini selalu mengacu pada sistem keseluruhan. Dapat saja tatanan tersebut berakumulasi di suatu tempat dengan mengorbankan kecenderungan yang muncul di tempat lain. Ciri esensial sistem yang hidup adalah keterbukaan terhadap lingkungannya: sistem itu tidak tertutup atau serba lengkap. Ia dapat hidup hanya melalui pertukaran energi dan materi dengan lingkungannya. Dalam semua kasus, terdapat suatu peningkatan entropi keteraturan dalam sistem yang tak hidup. Pertumbuhan kristal dari cairan yang tak memiliki ciri menggambarkan peningkatan lokal dalam keteraturan, namun penyelidikan yang cermat menunjukkan bahwa ada suatu penciptaan panas pengganti, yang menggerakkan kecenderungan materi di sekelilingnya.

Ada suatu keyakinan umum bahwa makhluk hidup membutuhkan energi, tetapi itu salah. Fisika menceritakan kepada kita bahwa energi terpelihara–tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Ketika seseorang terpengaruh oleh makanan, sebagian energinya terlepas dari badannya yang kemudian menghilang ke sekitarnya dalam bentuk panas, atau pekerjaan yang dilaksanakan melalui aktivitas. Keseluruhan isi energi dalam badan seseorang kurang lebih tetap tak berubah. Yang terjadi adalah adanya aliran energi sepanjang badan. Aliran ini didorong oleh keteraturan, atau kecenderungan negatif, energi yang dikonsumsi. Jadi, unsur yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan adalah kecenderungan negatif.

Banyak orang beragama bersedia berpendapat bahwa sekali kehidupan telah muncul di muka bumi, perkembangbiakan selanjutnya secara memuaskan dapat dijelaskan oleh hukum fisika dan kimia yang digabung dengan teori evolusi Darwin. Reproduksi misalnya, ketika spiral DNA meniru dirinya secara kimiawi, segera tampak seakan-akan sebagai proses mekanistis yang kompleks. Akan tetapi, bagaimana dengan asal-usul kehidupan?

Bersambung ke Bagian III.

Tulisan ini dirangkum dari buku God and The New Physics

One thought on “Kehidupan (Bagian II)

  1. Pingback: Kehidupan (Bagian I) | Free Thinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s