Opini Penulis

Saat membaca sesuatu, kecuali itu adalah aksioma (postulat) atau ‘kebenaran’ yang memang universal, saya akan selalu menganggapnya sebagai sebuah opini (pendapat) dari penulisnya.

penulis

Misalkan, “Semua cowok sama aja, kalau gak bajingan, berarti homo.” LOL

Nah, saya biasanya akan menambahkan “menurut si (penulisnya)…” di depan kalimat tersebut. Makanya terkadang kalau membaca kalimat yang berupa pernyataan seperti di atas, saya biasanya coba cari tau latar belakang kenapa dia (penulisnya) bisa membuat kalimat seperti itu. Apa dia memang benar-benar sudah merenungkan, meneliti dan membuktikannya, sekadar copy paste, atau malah cuma curhat?

Tapi kalau kalimatnya berupa aksioma, misalnya “1 + 1 = 2”, tentu saja tidak perlu dipermasalahkan. Kalau saya mempermasalahkannya, berarti saya sedang iseng atau kurang kerjaan. :p

Mengenai aksioma ini akan dibahas di postingan selanjutnya.

Lanjut. Nah, bagaimana dengan website-website yang menyediakan definisi seperti Wikipedia? Bukankah itu ditulis oleh manusia, yang berarti semua definisi dan arti yang ada di sana adalah sudut pandang dari penulisnya juga? Iya. Tapi ada yang namanya verifikasi dan falsifikasi. Dan di wikipedia, kalau artikelnya memang tidak bisa diverifikasi, maka akan muncul peringatannya.

verifikasi-wiki

Bagi saya, artikel di Wikipedia, selama sumbernya juga cukup bagus, dapat dipercaya. Namun untuk berita di situs-situs berita seperti kompas.com, detik.com, tempo, metrotv, dll, walaupun kredibilitas media-media online cukup bagus, saya tetap menganggap itu adalah sudut pandang dari penulis atau editornya. Untuk informasi awal boleh lah. Tapi langsung menganggap itu adalah fakta yang terjadi di lapangan, nanti dulu. Coba bandingkan terlebih dahulu dengan pemberitaan di media lain. Apa serupa? Kita tetap harus berhati-hati. Bisa saja ada kepentingan-kepentingan terselubung di sana. Saat ini, berita dapat menyebar dengan sangat cepat melalui twitter dan facebook tanpa kejelasan. Banyak orang yang tanpa pikir panjang me-retweet atau meng-share berita yang mungkin saja hanyalah hoax di media-media sosial tersebut.

Lalu mengapa saya melakukannya? Yang pertama, saya orangnya memang kurang kerjaan. Kedua, itu untuk menghindarkan saya hanya memiliki sedikit sudut pandang. Sebelum menilai sesuatu, saya mengharuskan diri saya untuk mencari (googling) sudut pandang yang berbeda. Kalau tidak ketemu, maka saya akan mencoba membayangkan, bagaimana seandainya saya menjadi pelakunya. Demikian juga saat membaca. Saya harus mencoba memahami bahwa sebuah tulisan, hanya merupakan opini penulis. Termasuk tulisan ini.

BTW, 1 + 1 dalam kehidupan hasilnya tidak selalu 2.
1 + 1 bisa saja hasilnya 1. Aku dan kamu menjadi satu… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s