Epigenetika

Pada tahun 1980-an, Drs. Lars Olov Bygren, seorang spesialis kesehatan yang saat ini bekerja di Karolinska Institue di Stockholm, menemukan hal menarik yang ia dapat dari hasil sebuah riset: kondisi dalam rahim bisa memengaruhi kesehatan bukan saja ketika bayi, tapi sampai usia dewasa.

nature-nurture

Jika seorang ibu hamil makan kurang baik, anak yang dikandungnya akan memiliki risiko yang secara signifikan lebih tinggi dari normal untuk mendapatkan penyakit kardiovaskular saat beranjak dewasa.

Lars Olov saat itu berpikir, apakah mungkin apa yang dialami orangtua sebelum kehamilan juga bisa memengaruhi keturunan mereka?

Pemikiran itu tergolong berani, karna saat itu orang-orang yakin sejak lama bahwa gen lah yang akan menentukan kehidupan seseorang. Sekali diturunkan, itulah ‘takdir’nya, tidak mungkin berubah lagi. Bila kita memiliki anak, gen tersebut akan diwariskan apa adanya. Kalau pun ada faktor lingkungan yang bisa merubah gen, perubahan itu tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Evolusi memerlukan ribuan tahun, bahkan lebih.

Namun Lars Olov menemukan sesuatu yang mengejutkan. Risetnya terhadap anak-anak lelaki di Overkalix menemukan bahwa anak-anak yang mengalami masa panen besar-besaran, yaitu mereka yang sebelumnya makan dengan porsi normal dan setahun kemudian makan besar-besaran selama setahun, memiliki cucu-cucu yang umurnya lebih pendek dibanding mereka yang mengalami masa panceklik. Perbedaannya bahkan mencapai 30 tahun, sangat besar.

Riset lebih jauh menunjukkan bahwa perubahan juga terjadi untuk anak perempuan dan garis keturunan mereka. Makan besar-besaran di satu musim dingin mampu memulai sebuah reaksi berantai biologis yang membuat keturunan mereka berusia lebih pendek.

Bagaimana mungkin perubahan tersebut bisa ditransmisikan ke keturunan mereka? Jawabannya jelas melalui gen. Tak ada penjelasan lain. Entah bagaimana perubahan ‘diet’ anak-anak tersebut mampu mengubah kode genetik mereka, dan kode genetik tersebut diturunkan ke anak-anak, lalu cucu-cucu mereka.

Namun masalahnya, saat itu para ilmuwan yakin bahwa perubahan genetik tidak mungkin terjadi secepat itu, apalagi terjadi serentak pada sebuah populasi.

Setelah melalui studi yang cermat, para ilmuwan menemukan jawabannya. Gen mereka tidak berubah, namun beberapa gen diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai dengan interaksi antara gen (nature) dan lingkungan (nurture). Meskipun kode genetik tidak berubah, namun ekspresi kode genetik tersebut ternyata mirip lampu: bisa hidup atau padam, tergantung pada pemicu lingkungan seperti diet, stress, terkena bahan kimia, atau nutrisi (selama kehamilan). Itulah epigenetik.

Perubahan pada epigenetik tersebut lebih cepat daripada perubahan genetik, dan proses itulah yang menjelaskan ‘misteri’ yang terjadi di desa Overkalix.

Perdebatan antara manusia sebagai hasil dari alam (genetik) atau lingkungan sudah lama terjadi. Sebagian besar pakar setuju bahwa kita memang adalah produk dari dua hal tersebut, gen dan lingkungan. Yang sering diperdebatkan adalah seberapa besar pengaruh gen, seberapa besar pengaruh lingkungan, dan bagaimana proses interaksinya.

Tapi sejak ada Epigenetika, argumen “nature vs nurture” tersebut sudah tidak relevan lagi. Pengaruh genetik dan lingkungan tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Epigenetika harus membuat kita meninjau ulang konsepsi kita terhadap cara kerja gen kita selama ini. Telah dibuktikan bahwa gaya hidup merokok atau makan terlalu banyak bisa mengubah tanda epigenetik, dan perubahan tersebut bisa diwariskan ke beberapa generasi.

Epigenetika membuktikan bahwa gen bukanlah ‘cetakan’ yang tidak bisa diubah, melainkan lebih mirip deretan lampu dengan tombol hidup-padam untuk setiap lampu yang ada. Epigenetik memberikan bukti bahwa ‘takdir’ kita, yang sering dianggap diwariskan melalui gen, bukanlah harga mati yang tidak bisa ditawar. Gen memang bisa mendikte kita, tetapi kita juga sebenarnya bisa mendikte gen kita.

Tentu saja banyak yang masih percaya dengan ‘takdir’. Baik itu dari sisi agama, maupun dari sisi sains (dalam hal ini gen). Kepercayaan dan keyakinan bahwa takdir kita sudah ditentukan sejak lahir, dan kita mungkin tidak bisa mengubahnya.

Tapi setelah membaca tulisan ini, Anda harusnya mendapat kesadaran baru. Kita memang hanya salah satu pemain kecil dalam drama raksasa bernama kehidupan, tetapi pengetahuan bahwa ekspresi gen bisa diubah, harusnya membuat kita sadar bahwa kita juga punya kemampuan untuk mengubah ‘takdir’ tersebut.

Mungkin kesadaran tersebut cuma ilusi. Mungkin kehendak bebas itu juga ilusi. Kita masih berada dalam (salah satu) dunia yang sudah ditetapkan dari awal hingga akhir (determinisme). Tapi toh keterbatasan dan ketidaktahuan kita menjadikan hal tersebut nyata. Kita (seharusnya) bisa jadi sutradara kehidupan kita sendiri.

Referensi:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s