Akal dan Jiwa (Bagian I)

Apapun perbedaan pendapat orang-orang tentang hakikat Tuhan, saya yakin tak ada satupun agama yang mengajarkan bahwa Tuhan hanyalah sekadar akal (atau sudah ada tapi saya yang tidak tahu?). Tapi karna manusia –bahkan hewan dalam batasan tertentu– punya akal, maka Tuhan pun pasti memiliki akal, yang lebih besar dari siapapun, karna Tuhan (katanya) adalah wujud tertinggi. Akan tetapi, apakah akal itu?

akal

Menurut Wikipedia, akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah. Kelanjutannya bisa Anda baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Akal.

Meskipun pengertian akal di wikipedia tersebut menurut saya sudah cukup bagus, namun masih banyak hal ruang kosong yang bisa diisi dengan berbagai macam pertanyaan di sana. Pertanyaan tentang apa itu akal tidak pernah basi. Sudah dan selalu diperdebatkan oleh teolog dan filosof sejak lama. Namun dewasa ini studi tentang akal telah masuk dalam wilayah sains, melalui psikologi dan psikoanalisis. Dan lebih belakangan lagi masuk dalam riset otak, penghitungan dan apa yang disebut ‘kecerdasan artifisial‘. Hanya akal yang memiliki pengalaman langsunglah yang diasosiasikan dengan otak. Secara sederhana, akal menempati otak. Namun tak seorangpun menegaskan bahwa Tuhan, atau jiwa yang telah pergi, memiliki otak. Apakah akal yang benar-benar terpisah dari alam fisik memiliki makna? Apakah akal dapat hidup sesudah mati?

Alangkah baiknya jika kita memulainya dengan menyamakan persepsi, menarik suatu perbedaan yang jelas antara alam mental dan alam fisik. Alam fisik dihuni oleh obyek-obyek material yang menempati lokasi dalam ruang dan memiliki sifat-sifat, seperti perluasan, massa, muatan elektrik dan sebagainya. Obyek-obyek ini tidak diam, tetapi bergerak, berubah, dan berkembang sesuai dengan hukum alam. Alam fisik adalah alam publik, yang bisa ditembus melalui pengamatan oleh setiap orang.

Sebaliknya, alam mental tidak dihuni oleh obyek-obyek material, tetapi oleh pemikiran. Pemikiran jelas tidak menempati ruang, tetapi tampaknya menduduki ‘alamnya’ sendiri yang bahkan, merupakan alam privasi, yang tidak dapat ditembus oleh pengamat lain. Pemikiran dapat berubah, berkembang, berinteraksi, dan bahkan bertingkah penuh gerakan dengan berbagai cara, di mana studi tentangnya menjadi suatu cabang psikologi.

Sejauh ini, hal itu tidak tampak kontroversial. Namun, persoalan muncul ketika alam fisik dan mental berinteraksi. Alam pemikiran kita tidaklah terisolasi dari alam fisik di seputar kita, tetapi terkait erat dengannya. Melalui indra, akal kita menerima arus informasi terus-menerus yang kemudian melahirkan aktivitas mental, baik dengan mendorong kemunculan pemikiran baru atau membentuk kembali yang telah ada. Jika, ketika membaca kalimat, Anda mendengar dentuman keras dari luar, pemikiran ‘genteng telah jatuh dari atap’ atau mungkin ‘mobil telah terbakar’ akan masuk ke dalam pertimbangan Anda. Karna itu, alam fisik bertindak sebagai sumber pemikiran baru dan memiliki dampak menyusun kembali alam mental.

Sebaliknya, alam mental bertindak pada alam fisik melalui fenomena keinginan. Anda memutuskan untuk menyelidiki dentuman, dan kaki Anda bergerak, buku disiapkan, pintu terbuka. Pemikiran dalam akal Anda menggerakkan aktivitas fisik melalui perantaraan badan Anda yang kemudian menyusun kembali obyek-obyek material dalam lingkungan Anda. Sesungguhnya, hampir segala sesuatu yang biasa kita lihat dalam lingkungan kita merupakan hasil dari aktivitas mental yang direalisasikan melalui cara kerja fisik. Rumah, jalan, ladang gandum, kincir angin, semua bersumber pada aktivitas intelektual yang meliputi perencanaan dan keputusan yang diubah menjadi ‘realitas konkret’.

Meskipun semua itu tampaknya jelas, ada saja beberapa sifat yang saling mengganggu yang timbul. Bagaimanakah mekanisme materi bertindak pada akal dan, lebih buruk lagi, akal bertindak pada materi?

Mari kita selidiki bagaimana pemikiran tertentu ‘tertanam’ dalam akal oleh stimulus eksternal –suara keras, misalnya. Gelombang suara mengenai gendang telinga dan membuatnya bergerak. Gerak itu ditransmisikan melalui tiga tulang yang lebut menuju ruang selaput telinga, kemudian selaput telinga menerima getaran dan memberikannya kepada cairan dan gas di bagian dalam telinga. Cairan dan gas tersebut pada gilirannya mengganggu kawat pijar sensitif yang melahirkan dorongan listrik. Dorongan ini melintasi alur syaraf pendengaran menuju otak, di mana sinyal elektrik berhadapan dengan elektro-kimiawi yang kompleks dan sensasi suara pun memiliki nada. Tapi bagaimana? Bagaimana rangkaian lurus interaksi fisik, jika kompleks, tiba-tiba memunculkan suatu peristiwa mental —sensasi suara? Bagaimana dengan pola elektro-kimiawi tertentu di dalam otak yang membuat Anda benar-benar mendengarkan sesuatu, dan dengan begitu menggerakkan rangkaian pemikiran?

Pusing? Tidak masalah. Saya pun tidak menguasai hal tersebut. Teruslah membaca.

Yang lebih paradoks lagi adalah responnya. Anda memutuskan untuk menyelidiki suara. Kaki Anda bergerak–bagaimana? Sel otak menyala, pesan berdengung sepanjang saraf, otot mengeras; Anda pun bergerak.

Paradoksnya di sini adalah bahwa peristiwa fisik yang tampaknya jatuh ke muka bumi yang melibatkan dorongan elektrik biasa ini disamakan dengan peristiwa mental: “Suara apakah itu? Apakah sesuatu telah retak? Haruskah aku menyelidiki? Ya.” –dan sel otak pun mulai bekerja. Akan tetapi, meskipun deskripsi mental sejauh ini sejalan dengan deskripsi fisik, ada suatu unsur penting yang tidak mengikat; yakni fakta bahwa Anda memutuskan untuk menyelidiki suara. Gerak kaki, dengan meninggalkan buku dan seterusnya, merupakan akibat dari tindakan sadar dari keinginan, suatu pilihan. Di manakah terdapat ruang bagi kehendak bebas dalam hukum kontak elektrik yang dapat diprediksi secara deterministik itu?

Salah satu jawabannya adalah memandang akal agaknya seperti operator dalam mengendalikan mesin yang ruwet. Laksana seorang operator stasiun tenaga yang dapat menekan berbagai tombol dan menyalakan kota, demikian juga akal menyalakan sel otak (syaraf) yang relevan untuk mengaktifkan badan sesuai dengan keputusanya. Akan tetapi, bagaimanakan keputusan yang sadar untuk menyelidiki kegaduhan menyebabkan sel otak yang relevan menyala? Hukum kontak elektrik apa yang diandaikan siap menentukan sinyal outputnya? Apakah hukum-hukum ini dilanggar? Mungkinkah akal mencapai alam fisik elektron dan atom, sel dan syaraf otak, dan menciptakan tenaga elektrik? Apakah akal bertindak pada materi dengan melanggar prinsip-prinsip fundamental fisika? Apakah benar ada dua sebab gerakan dalam alam materi: pertama, karena proses fisik dan kedua, karena proses mental?

Masalah teka-teki tentang kehendak bebas dan interaksi akal pada materi telah dibahas di postingan tentang Kehendak Bebas dan Determinisme. Namun masalah kita saat ini tidak terletak di situ. Kita masih belum mengungkap apakah kesadaran itu dan bagaimana ia muncul. Apakah simpanse, anjing, tikus, laba-laba, cacing, bakteri dan robot itu sadar? Apakah bayi manusia sadar ketika berusia delapan bulan? Tidak banyak yang menjawab “ya” terhadap semua pertanyaan ini. Jika memang kesadaran itu tumbuh secara bertahap, apakah kesadaran itu dapat diukur dengan cara tertentu, sehingga kita dapat menetapkan pada skala 100 untuk orang dewasa, sebutlah 90 untuk simpanse, 50 untuk anjing, 5 untuk tikus, 2 untuk bayi berusia enam bulan, dan 0,1 untuk laba-laba? Ataukah ada ‘ambang perkembangan’ di mana kesadaran tiba-tiba mekar layaknya bahan bakar yang tiba-tiba menyala pada suatu temperatur yang kritis?

Bagaimana kita dapat mengakui kesadaran ketika kita melihatnya? Masing-masing dari kita mengalami secara langsung kesadaran kita sendiri, tetapi karena berada dalam alam pemikiran dan sensasi yang sangat privat dan non-fisik, tidaklah mungkin kesadaran kita itu dapat diamati oleh orang lain. Sebaliknya, kita hanya dapat menyimpulkan kesadaran pada orang lain melalui perilaku mereka dan melalui komunikasi dengan mereka via alam fisik. Felix bisa saja menceritakan kepada Gilbert bahwa dia, Felix, sadar dan Gilbert, yang mengamati bahwa Felix tampaknya teman yang normal dan melakukan dialog yang ‘nyambung’, mempercayainya. Kalaupun Felix bisu, atau hanya berbicara dengan bahasa Zimbabwe yang kurang jelas, Gilbert masih tetap merasa yakin dalam menarik kesimpulan yang sama melalui pengamatannya atas perilaku Felix yang lainnya.

Dalam kasus anjing, kita berada dalam posisi yang lemah. Komunikasi anjing-manusia sangat minim dan bisa jadi ambigu, dan banyak perilaku anjing tampaknya tidak sadar, alias instringtif. Namun tidak sedikit anggota klub pecinta-dan-pembela-hak-hak-anjing ini yang menolak bahwa piaraan mereka itu tidak sadar dan tidak memiliki akal, meskipun kurang maju ketimbang manusia. Akan tetapi, ketika tiba pada makhlkuk yang lebih rendah, laba-laba misalnya, sulit untuk menyatakan bahwa mereka memiliki akal. Memang mereka tetap menujukkan perilaku, namun mudah diyakini bahwa perilaku tersebut bersifat otomatis, yang terprogram oleh insting.

Dalam melihat hal di atas, ada perbedaan yang besar tentang kesadaran. Sadar dalam pengertian menunjukkan data-indrawi agaknya kurang sempurna dibandingkan dengan kemampuan merencanakan, memutuskan dan bertindak. Seorang bayi yang baru lahir mengalami sensasi yang diakibatkan dari stimulus jasmani, tetapi sepenuhnya pasif dalam kesadaran ini. Demikian pula, laba-laba barangkali mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarnya, namun memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk merespon kecuali dengan tindakan reflek. Sering dikatakan bahwa kemampuan untuk menilai situasi, merencanakan dan bertindak sesuai dengan situasi tersebut adalah sifat khas manusia. Tentu saja yang demikian itu salah (terutama jika kehidupan makhluk cerdas di luar bumi itu ada). Namun, bisa saja sifat-sifat akal yang lebih aktif ini tidak saja berkaitan dengan kesadaran ‘biasa’, melainkan kesadaran-diri (akan dibahas di beberapa postingan selanjutnya). Bisa jadi konsep diri ini tidak berkembang dengan baik pada binatang.

Perkembangan cepat komputer yang kuat telah mengalihkan perhatian kepada mekanisme yang mendasari kemampuan berpikir manusia, dan telah mendorong sejumlah analisis pencarian akan hubungan akal dan otak. Pusat perhatian studi ini adalah pertanyaan sederhana tapi padat: Dapatkah mesin berpikir?

artificial-intelligence

Semua ahli (termasuk saya :v) setidak-tidaknya sepakat bahwa saat ini, komputer yang paling maju pun gagal menyamai akal manusia dalam cara bekerja. Sebagaimana umum dikenal, komputer biasanya dapat melaksanakan melebihi kemampuan manusia dalam aritmatika, menyimpan data (dalam batasan tertentu) dan bermain catur, tetapi komputer masih belum bisa mengarang musik dan syair. Perbedaan ini tidak banyak berkaitan dengan perangkat keras struktural komputer ketimbang cara komputer tersebut diprogram (perangkat lunak). Kebanyakan komputer dirancang untuk menjalankan tugas-tugas tertentu yang rendah tingkatannya (seperti jumlah besar aritmetik sederhana), di mana kecepatan dan akurasinya dapat melampaui manusia. Komputer yang sering melakukan kesalahan & ngambek jelas telah ketinggalan zaman, dan tentu saja tidak akan dipakai, meskipun pemilikan atas karakteristik yang tidak rasional –dan tidak sopan– tersebut memungkinkannya semakin mendekati kecerdasan manusia. Tentu saja tidak ada seorang pun yang memiliki gagasan memprogram komputer dengan sifat semacam itu. Atau (lagi-lagi) sudah ada?

Terlepas dari keterbatasan teknologi mutakhir ini, persoalan apakah mesin dapat memiliki ‘akal’ merupakan pertanyaan yang masih lumayan hangat. Siapa saja yang memiliki pengalaman menggunakan komputer yang kuat akan segera mengetahui bahwa, dalam pengertian terbatas, komputer dapat berkomunikasi dengan penggunanya secara semi-manusiawi. Contohnya adalah Siri di iOS Apple dan Skyvi di Android. Teknik ‘interaktif’ modern memungkinkan dialog yang rumit terjadi, tentang dasar pertanyaan dan jawaban, antara manusia dan mesin, meskipun rentang percakapannya jelas masih sangat terbatas.

Bersambung ke Bagian II.

4 thoughts on “Akal dan Jiwa (Bagian I)

  1. Pingback: Akal dan Jiwa (Bagian II) | Free Thinker

  2. Pingback: Diri | Free Thinker

  3. Pingback: Aku samadengan Kamu | Teman Merawat Peristiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s