Diri

Apakah kita ini? Masing-masing di antara kita telah mengubur jauh-jauh dalam kesadaran kita suatu rasa identitas pribadi yang kuat. Karena (tubuh) kita tumbuh dan berkembang, pendapat dan rasa kita berubah, perspektif kita tentang dunia beralih, emosi-emosi baru muncul. Namun satu hal yang tak pernah kita ragukan adalah bahwa kita adalah orang yang sama. Kita memiliki pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah itu. Pengalaman-pengalaman terjadi pada kita. Akan tetapi, apakah ‘kita’ yang telah memiliki pengalaman itu? Itulah misteri diri yang sudah berlangsung lama.

Ketika berhubungan dengan orang lain, kita biasanya mengidentikkan mereka dengan badan mereka, dan setidak-tidaknya dengan kepribadian mereka, tetapi kita memandang diri kita secara berbeda. Ketika seseorang menyebut ‘badanku’, itu dalam pengertian pemilikan, seperti dalam ungkapan ‘rumahku’. Akan tetapi, jika tiba pada akal, tidak banyak pemilikan sebagai pemilik. Akalku bukanlah barang yang bergerak: itulah aku.

Jadi, akal dipandang sebagai pemilik pengalaman dan perasaan, pusat atau fokus pemikiran. Pemikiran saya dan pengalaman saya menjadi milik saya; pemikiran dan pengalamanmu menjadi milikmu. Namun demikian, konsep akal (atau jiwa), sebagaimana telah kita lihat dalam postingan sebelumnya, merupakan sebuah konsep yang sangat sulit dan dapat menimbulkan paradoks. Pertanyaan “apakah saya?” bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pertanyaan tersebut harus dijawab jika seseorang harus memahami sepenuhnya gagasan tentang keabadian. Jika saya barus hidup sesudah mati, lalu apa yang saya harapkan untuk tetap hidup?

Menurut David Hume, “Diri tidak lain daripada kumpulan pengalaman…” Jadi, jika menggunakan definisi ini, jawaban atas pertanyaan “apakah aku?” hanyalah “aku adalah pemikiran dan pengalamanku”. Namun, ada perasaan tidak tenang megenai hal ini. Dapatkah pemikiran ada tanpa seorang pemikir? Dan apa yang membedakan pemikiran Anda dengan pemikiran-ku? Apa seseungguhnya yang dimaksud dengan ‘pemikiranku’? Sebenarnya, Hume kemudian melanjutkan, “Setelah meninjau dengan saksama bagian yang berkaitan dengan identitas diri: saya menemukan diri saya terlibat dalam labirin.”

Namun, harus diakui bahwa konsep diri itu samar, dan bahwa pengalaman-pengalaman membentuk kualitas diri, meskipun pengalaman tersebut tidak memberi alasan sepenuhnya. Beberapa aspek diri tampaknya berada pada garis batas identitas pribadi. Di manakah, misalnya, kita harus menempatkan emosi? Apakah Anda memiliki emosi (sebagaimana Anda memiliki badan) ataukah emosi Anda bagian integral dari Anda? Umum dikenal bahwa emosi sangat dipengaruhi oleh dampak fisik, seperti komposisi kimiawi darah. Keseimbangan hormon dapat menghasilkan berbagai kekacauan emosi. Minuman (seperti alkohol) dapat menciptakan atau menekan kondisi mental dan kecenderungan emosional. Lebih drastis lagi, operasi otak dapat menciptakan perubahan kepribadian. Semua ini membuat kita enggan untuk membungkus jiwa dengan begitu banyak perangkap kepribadian. Di sisi lain, jika semua emosi dihilangkan, apa yang tersisa?

Di antara persoalan-persoalan besar yang ada tentang diri, ada masalah memori dan keseluruhan masalah persepsi kita tentang waktu. Konsepsi kita tentang diri kita berakar mendalam pada memori kita terhadap pengalaman masa lalu. Sama sekali tidak jelas bahwa, dengan tiadanya memori, diri dapat mempertahankan makna apapun. Mungkin menjadi suatu keberatan bahwa seseorang menderita amnesia masih meragukan “siapa saya?” tetapi tidak meragukan sesaat pun bahwa ada “aku” yang dengannya ‘siapa’ terkait. Bahkan, orang yang menderita amnesia pun sama sekali tidak kehilangan memori. Dia tidak memiliki kesulitan, misalnya mengenali penggunaan obyek sehari-hari, seperti cangkir dan piring, kendaraan dan tempat tidur. Lebih dari itu, memori jangka pendeknya tetap efektif: jika dia memutuskan berjalan di taman, beberapa saat kemudian dia tidak ragu bahwa dia sedang melakukan hal itu.

Jika seseorang benar-benar kehilangan kemampuannya untuk mengingat pegalamannya sekalipun beberapa detik sebelumnya, maka indera identitasnya sungguh-sungguh hancur. Dia sama sekali tidak mempu bertindak atau berperilaku secara koheren. Gerakan jasmaninya tak terkoordinasi dalam tindakan yang sadar. Dia sepenuhnya tidak mempu memahami persepsinya, dan bahkan tidak dapat mencoba menyusun pengalaman dunianya tentang dirinya. Seluruh gagasan tentang dirinya karena berbeda dengan alam yang dipersepsinya menjadi kacau. Tidak ada pola atau keteraturan dalam peristiwa tampak jelas, dan tidak ada konsep kontinyuitas –terutama kontinyuitas pribadi– dapat ditegakkan.

Dengan demikian, melalui memorilah kita memperoleh pengertian tentang identitas pribadi, dan mengakui diri kita sebagai individual yang sama dari hari ke hari. Sepanjang hidup kita menempati satu badan, akan tetapi badan dapat mengalami perubahan yang dahsyat. Atom-atom di tubuh kita secara sistematis diganti sebagai akibat dari aktivitas metabolis; ia tumbuh, matang, lanjut usia dan akhirnya mati. Kepribadian kita juga mengalami perubahan penting. Namun, melalui metamorfosis yang terus-menerus ini kita yakin bahwa kita adalah pribadi yang satu dan sama. Jika kita tidak memiliki memori tentang fase kehidupan kita terdahulu, bagaimana bisa konsep ‘pribadi yang sama’ bermakna, kecuali dalam pengertian kontinyuitas jasmani?

Andaikan seseorang mengklaim sebagai reinkarnasi Napoleon. Jika dia tidak terlihat seperti Napoleon, satu-satunya kriteria yang dapat Anda gunakan untuk menilai klaimnya adalah memori. Apa warna kesukaan Napoleon? Bagaimana perasaannya sebelum perang Waterloo? Anda mengharapkan agar dia menceritakan sejumlah informasi tertentu (dan benar-benar dapat diverifikasi) tentang Napoleon sebelum mempertimbangkan klaim tersebut secara serius. Namun, andaikan orang tersebut menyatakan bahwa dia telah kehilangan seluruh memori kehidupannya terdahulu, kecuali memori bahwa dia adalah Napoleon, apa yang harus Anda putuskan? Apan makna baginya ketika mengatakan “Aku adalah Napoleon”?

Dia mungkin menjawab, “Yang saya maksudkan adalah bahwa, meskipun badan dan memoriku, dan seluruh kepribadianku sekarang ini adalah badan dan memori Gilbert, jiwa Gilbert tak lain adalah jiwa Napoleon Bonaparte. Aku dahulu Napoleon, sekarang aku Gilbert, akan tetapi itulah aku yang sama. Hanya karakteristikku telah berubah.” Namun, bukankah ini sama? Lalu apa yang digunakan untuk mengidentifikasi akal seseorang dari lainnya selain kepribadian atau memori mereka? Klaim bahwa ada sejenis nama yang dapat ditransfer –jiwa– yang malah tidak memiliki sifat kecuali untuk menunjukkan tanda mistis, merupakan suatu dugaan yang sama sekali tidak bermakna. Apa yang kita katakan kepada seseorang yang menolak eksistensinya? Tidakkah kita dapat mengada-adakan jiwa bagi segala sesuatu dengan cara begini –bagi tumbuhan, awan, batu, dan pesawat udara? Seseorang dapat menyatakan, “Ini kelihatannya seperti lokomotif diesel biasa, tetapi sebenarnya ia mengandung esensi, jiwa Roket awal Stevenson! Rancangannya berbeda, bahannya berbeda, tetapi ia sebenarnya adalah lokomotif yang sama dengan struktur, tampilan dan rancangan yang benar-benar baru.” Apa makna penegasan hampa seperti itu?

Sekadar mengambil contoh yang lebih masuk akal ketimbang reinkarnasi, andaikan seorang sahabat dekat harus menjalani operasi penting yang begitu komprehensif sehingga secara fisik dia benar-benar tidak dapat dikenali sesudah itu. Bagaimana Anda tahu bahwa dia adalah orang yang sama? Jika dia menceritakan kepada Anda fakta tentang kehidupannya terdahulu, mengingatkan Anda akan insiden-insiden kecil dan percakapan pribadi, dan secara umum menunjukkan pengetahuan yang baik tentang kondisinya sebelumnya, Anda akan cenderung menyimpulkan bahwa dia adalah orang yang sama. Akan tetapi, jika operasi tersebut juga menghapus sebagian besar memori sahabat Anda, atau mungkin merusaknya, penilaian Anda terhadap identitasnya akan jauh tidak meyakinkan. Jika sama sekali tidak memiliki memori, Anda tidak memiliki alasan (kecuali mungkin bukti jasmani yang tersisa) untuk mengatakan bahwa orang yang ada di hadapan Anda adalah sahabat Anda.

Kesulitan yang kita lihat di sini bagi kaum dualis, yang percaya akan keabadian jiwa, sangatlah jelas. Jika jiwa bergantung pada otak untuk menyimpan memori, bagaimana jiwa dapat mengingat sesuatu setelah matinya badan? Dan jika jiwa tidak dapat mengingat sesuatu, mengapa kita harus menisbahkan identitas pribadi kepadanya? Ataukah kita mengandaikan bahwa jiwa memiliki semacam sistem memori yang ditopang oleh sesuatu yang non-materi yang berfungsi sama dengan otak?

Kadang-kadang suatu upaya dilakukan untuk membongkar jalan buntu ini dengan menegaskan bahwa jiwa melampaui waktu. Karena jiwa tidak dapat berada dalam ruang, ia juga tidak memiliki tempat dalam waktu. Akan tetapi argumen seperti ini hanya melahirkan kesulitan baru, seperti yang telah dibahas di postingan sebelumnya tentang akal dan jiwa.

Ada satu aspek diri yang tampaknya bertentangan dengan deskripsi tingkat rendah dan deterministik, dan itu adalah kehendak. Semua manusia percaya bahwa mereka mampu memilih, dengan cara terbatas, antara berbagai jalan tindakan yang tersedia bagi mereka. Dapatkah kebebasan nyata untuk menggerakkan tindakan semacam itu diprogramkan ke dalam komputer?

Hofstadter menegaskan bahwa pada prinsipnya kita dapat melakukannya. Dia menggambarkan rasa kebebasan yang kita miliki sebagai keseimbangan yang rumit antara pengetahuan-diri dan kebodohan-diri. Dengan memasukkan tingkat penyebutan-diri yang memadai ke dalam program komputer, Hofstadter mengklaim bahwa komputer tersebut akan mulai bertindak seolah-olah ia memiliki kehendaknya sendiri. Hofstadter mencoba mengaitkan kehendak bebas dengan ketidaksempurnaan ala Gödel yang secara tak terelakkan muncul dalam setiap sistem yang mampu memonitor aktivitas internalnya sendiri.

Andaikan bahwa seseorang terbujuk oleh argumen-argumen yang menyatakan bahwa otak manusia adalah mesin elektro-kimiawi yang sangat kompleks, dan bahwa jenis mekanisme artifisial lain, seperti komputer, dapat diprogram memiliki kehendak bebas dan emosi seperti manusia. Apakah ini memerosotkan akal manusia? Menyatakan bahwa otak adalah mesin tidak berarti menolak realitas akal dan emosi, yang merujuk pada tingkat deskripsi yang lebih tinggi (koloni semut, alur cerita novel, simfoni Beethoven). Mengatakan otak adalah mesin tidak harus menginsyaratkan bahwa akal bukanlah apa-apa kecuali produk dari proses mekanistik. Mengklaim bahwa sifat deterministik aktivitas otak menjadikan kehendak bebas sebagai ilusi merupakan konsepsi salah, sebagaimana konsepsi bahwa kehidupan adalah ilusi karena sifat tidak hidup yang mendasari proses atom.

Perhatikan, misalnya, apa yang terjadi jika otakmu dapat dihilangkan dan digantikan dengan ‘sistem pendukung otak’, yang tetap terkait dengan badanmu melalui sejenis jaringan komunikasi radio. Mata, telinga dan indra Anda lainnya tetap berfungsi seperti biasa. Badan Anda dapat bekerja tanpa halangan. Sebenarnya, tidak ada yang tampak beda, kecuali bahwa Anda dapat menoleh ke otak Anda sendiri. Pertanyaannya adalah, di mana kira-kira Anda? Jika badan Anda melakukan perjalanan kereta, pengalaman Anda seperti pengalaman seseorang yang ada dalam perjalanan tersebut, persis seolah-olah otak Anda tetap ada dalam tengkorak Anda. Anda pasti akan merasakan seolah-olah Anda dalam kereta tersebut.

Kebingungan bertambah jika sekarang kita melihat otak Anda dicangkokkan ke dalam badan lain. Benarkah jika kita mengatakan bahwa Anda memiliki badan baru, ataukah badan Anda memiliki otak baru? Dapatkah Anda menganggap diri Anda sebagai orang yang sama, dengan badan yang berbeda? Mungkin Anda dapat. Akan tetapi, andaikan badan tersebut berjenis kelamin beda, atau bahkan badan binatang? Sebagian besar yang membentuk Anda, kepribadian dan kemampuan Anda dan seterusnya, terikat dengan kondisi kimiawi dan fisik badan Anda. Lalu, bagaimana jika memori Anda hilang selama transfer? Maka, bermaknakah jika kita memandang individu baru itu sebagai Anda?

Persoalan baru muncul ketika kita berspekulasi tentang duplikasi diri. Andaikan seluruh isi informasi dalam otak Anda diletakkan pada sebuah komputer raksasa, dan badan serta otak asli Anda telah mati. Masihkah Anda hidup –dalam komputer tersebut?

Gagasan meletakkan akal ke dalam komputer menimbulkan prospek akan keragaman duplikat Anda untuk disalin dalam komputer lain. Tentu, sudah banyak ditulis tentang kekacauan mental ‘kepribadian ganda’, dan kasus-kasus di mana hubungan antara belahan kiri dan kanan otak pasien terputus, yang mengarah pada kondisi mental di mana, kasarnya, tangan kiri secara harfiah tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan.

Meskipun sebagian gagasan ini mungkin tampak menakutkan, gagasan-gagasan tersebut sungguh memunculkan harapan bahwa kita dapat memahami secara ilmiah keabadian, karena gagasan-gagasan itu menekankan bahwa unsur esensial akal adalah informasi. Pola di dalam otaklah, dan bukan otak itu sendiri, yang membuat kita sebagaimana kita sekarang. Seperti halnya Simfoni ke-5 Beethoven tidak musnah dengan berakhirnya penampilan orkestra, demikian pula akal dapat terus bertahan melalui transfer informasi di tempat lain. Kita telah melihat di atas bagaimana, pada prinsipnya, akal tidak mustahil ditempatkan pada komputer, akan tetapi jika akal pada dasarnya adalah ‘informasi yang tersusun’, maka media ekspresi informasi tersebut bisa apa saja; tidak perlu otak tertentu atau malah setiap otak.

McKay mengungkapkan sudut pandang ini dengan menggunakan perumpamaan komputer:

Jika sebuah komputer yang sedang menjalankan program tertentu tersentuh api dan hancur, kita tentu mengatakan bahwa begitulah akhir perwujudan program tertentu. Akan tetapi, jika kita menginginkan program yang sama berjalan dalam perwujudan yang baru, tidak perlu kita menyelamatkan bagian-bagian asli komputer tersebut atau bahkan menduplikasi mekanisme awalnya. Setiap media yang aktif akan memberikan ungkapan kepada struktur yang sama dan rangkaian hubungan pada prinsipnya dapat mewujudkan program yang serupa.

Kesimpulan ini masih menyisakan pertanyaan, apakah ‘program’ dijalankan kembali pada badan lain di kemudian hari (reinkarnasi), atau dalam sistem yang tidak dapat kita pahami sebagai bagian dari semesta fisik (dalam surga?), ataukah program tersebut tersimpan dalam indra tertentu (limbo?). Sejauh persepsi tentang waktu diperhatikan, kita akan melihat bahwa hanya selama menjalankan programlah, sebagaimana dalam permainan aktual simfoni, setiap makna dapat dilekatkan pada aliran waktu. Eksistensi program, seperti simfoni, sekali tercipta, secara esensial kekal.

(Dirangkum dari God and the New Physic)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s