Argumen Richard Dawkins

the-god-delusion

Berikut ini adalah 6 poin argumen utama Richard Dawkins dalam bukunya The God Delusion, bahwa premis agama yang ada sekarang ini –Hipotesa Tuhan– tidak dapat dipertahankan. Tuhan hampir pasti tidak ada.

  1. Salah satu tantangan terbesar bagi akal-pikiran manusia selama berabad-abad adalah menjelaskan bagaimana kesan adanya desain yang kompleks dan mustahil dalam munculnya alam semesta.
  2. Godaan alamiah yang umum terjadi adalah menganggap kesan adanya desain itu sebagai desain aktual itu sendiri. Dalam kasus artefak buatan-manusia seperti sebuah jam, sang pendesain tersebut memang seorang insinyur yang cerdas. Sangat menggoda untuk menerapkan logika yang sama pada sepasang mata atau sayap, seekor laba-laba atau seorang manusia.
  3. Godaan itu salah belaka, karena hipotesa pendesain tersebut dengan segera memunculkan persoalan yang lebih besar tentang siapa yang mendesain sang pendesain tersebut. Keseluruhan persoalan yang kita ajukan tersebut adalah persoalan menjelaskan kemustahilan statistik. Jelas bukan suatu pemecahan jika mempostulasikan sesuatu yang bahkan lebih mustahil. Kita membutuhkan suatu “crane”, bukan suatu “skyhook”, karena hanya sebuah crane yang bisa berkembang secara bertahap dan masuk akal dari kesederhanaan ke kompleksitas yang sangat sulit dimengerti.
  4. Crane yang paling sederhana dan paling kuat yang hingga sekarang ini telah ditemukan adalah evolusi Darwinian melalui seleksi alamiah. Darwin dan para penerusnya telah memperlihatkan bagaimana mahluk-mahluk hidup, dengan kemustahilan statistik mereka yang begitu besar dan kesan adanya desain, berevolusi melalui tingkatan-tingkatan yang lambat dan bertahap dari awal yang sederhana. Kita sekarang ini bisa dengan pasti mengatakan bahwa ilusi tentang desain dalam mahluk hidup memang semata-mata hanyalah ilusi.
  5. Hingga sekarang ini kita belum memiliki crane yang serupa dalam ilmu fisika. Suatu jenis teori multi-alam-semesta dalam ilmu fisika pada dasarnya bisa memiliki fungsi eksplanatoris yang sama sebagaimana Darwinisme dalam biologi. Jenis penjelasan ini tampaknya kurang memuaskan dibanding Darwinisme dalam biologi, karena ia mengandung suatu tuntutan yang kuat akan adanya keberuntungan. Namun prinsip antropik yang mendorong kita untuk mempostulatkan keberuntungan yang jauh lebih banyak ketimbang intuisi manusiawi kita yang terbatas tersebut cukup memadai.
  6. Kita hendaknya tidak berhenti berharap akan munculnya suatu crane yang lebih baik dalam ilmu fisika, sesuatu yang sama kuatnya sebagaimana Darwinisme dalam biologi. Namun bahkan dengan tidak adanya suatu crane yang sangat memuaskan yang setara dengan crane biologi, crane yang relatif lemah yang kita miliki sekarang ini –ketika dipadukan dengan prinsik antropik tersebut– jelas lebih baik dibanding hipotesa seorang pendesain cerdas yang menyangkal-diri sendiri.

One thought on “Argumen Richard Dawkins

  1. Selamat sore. Saya seorang Kristen Saksi Yehuwa. Ijinkan saya membagikan materi menarik dari situs web kami, http://www.jw.org/id, terutama berhubungan dengan subjek ‘6 poin argumen utama Richard Dawkins dalam bukunya The God Delusion’. Semoga materi ini bisa menambah wawasan kita bersama.

    {NOTE: Kecuali disebutkan sumbernya, semua kutipan ayat dalam tulisan ini diambil dari Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru. Selamat membaca.}

    ***

    SIAPA YANG MEMBUAT ALLAH?

    Bayangkan seorang ayah sedang berbicara kepada putranya yang berumur tujuh tahun. Dia mengatakan, ”Dulu, dulu sekali, Allah membuat bumi dan segala isinya, dan Dia membuat matahari, bulan dan bintang-bintang.” Anak ini berpikir sejenak, lalu bertanya, ”Pa, siapa yang membuat Allah?”

    ”Tidak ada yang membuat Allah,” jawab ayahnya. ”Dia selalu ada.” Untuk sementara, anak itu puas dengan jawaban sederhana itu. Namun, sewaktu dia bertambah dewasa, dia masih terus penasaran. Dia tak habis pikir bagaimana mungkin ada yang tidak punya permulaan. Alam semesta saja punya permulaan. Dia bertanya-tanya, ’Dari mana asalnya Allah?’

    Apa jawaban Alkitab? Pada dasarnya, sama seperti yang dijelaskan sang ayah tadi. Musa menulis, ”Oh, Yehuwa, . . . sebelum gunung-gunung dilahirkan, atau sebelum engkau melahirkan bumi dan tanah yang produktif . . . dari waktu yang tidak tertentu sampai waktu yang tidak tertentu, engkaulah Allah.” (Mazmur 90:1, 2) Nabi Yesaya juga berseru, ”Tidakkah kautahu atau tidakkah kaudengar? Yehuwa, Pencipta ujung-ujung bumi, adalah Allah sampai waktu yang tidak tertentu”! (Yesaya 40:28) Dan, surat Yudas menyebutkan bahwa Allah sudah ada dari ”selama-lamanya di masa lampau”.—Yudas 25.

    Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa Allah adalah ”Raja kekekalan”, seperti yang rasul Paulus katakan di 1 Timotius 1:17. Ini berarti, tidak soal seberapa jauh kita memutar waktu ke belakang, Allah selalu ada. Dan, Dia akan selalu ada di masa-masa mendatang. (Penyingkapan [Wahyu] 1:8) Maka, keberadaan-Nya yang kekal menjadi sifat dasar dari Pribadi yang Mahakuasa itu.

    Mengapa kita sulit memahami gagasan ini? Karena jangka waktu hidup kita terbatas, gambaran kita tentang waktu sama sekali berbeda dengan yang Yehuwa miliki. Karena Allah itu kekal, bagi Dia seribu tahun itu seperti sehari. (2 Petrus 3:8) Sebagai ilustrasi: Apakah seekor belalang dewasa yang hidupnya hanya 50 hari bisa mengerti hidup kita yang lamanya 70 sampai 80 tahun? Pasti tidak! Nah, Alkitab menjelaskan bahwa kita seperti belalang jika dibandingkan dengan Pencipta Agung kita. Bahkan, kemampuan bernalar kita lebih terbatas lagi dibandingkan dengan yang Allah miliki. (Yesaya 40:22; 55:8, 9) Jadi, tidak mengherankan jika ada hal-hal tertentu dari kodrat Yehuwa yang tidak bisa dimengerti sepenuhnya oleh manusia.

    Meski gambaran tentang Allah yang kekal susah dipahami, sebenarnya ini masuk akal. Jika ada pribadi lain yang menciptakan Allah, pribadi itulah yang menjadi Pencipta. Tapi, Alkitab menjelaskan, Yehuwa-lah yang ”menciptakan segala sesuatu”. (Penyingkapan 4:11) Selain itu, kita tahu bahwa alam semesta tadinya tidak ada. (Kejadian 1:1, 2) Dari mana asalnya? Penciptanya harus ada terlebih dahulu. Dia juga ada sebelum makhluk-makhluk cerdas lainnya ada, seperti Putra tunggal-Nya dan para malaikat. (Ayub 38:4, 7; Kolose 1:15) Maka jelaslah, Dia yang pertama-tama ada sendirian. Dia tidak mungkin diciptakan; sebelum Dia tidak ada siapa-siapa sehingga tidak ada yang menciptakan Dia.

    Adanya kita dan seluruh alam semesta membuktikan bahwa Allah yang kekal itu ada. Pribadi yang mengatur pergerakan di alam semesta yang luas ini, Pribadi yang menetapkan hukum-hukum yang mengendalikan semuanya, pastilah selalu ada sejak dulu. Hanya Dia yang bisa memberikan kehidupan kepada segala sesuatu.—Ayub 33:4.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s