God is dead

god-is-dead

Friedrich Nietzsche, menulis sebuah ide bahwa tuhan sudah mati dengan sangat puitis dalam buku The Gay Science.

God is dead. God remains dead. And we have killed him.

How shall we comfort ourselves, the murderers of all murderers?

What was holiest and mightiest of all that the world has yet owned has bled to death under our knives: who will wipe this blood off us?

What water is there for us to clean ourselves? What festivals of atonement, what sacred games shall we have to invent?

Is not the greatness of this deed too great for us?

Must we ourselves not become gods simply to appear worthy of it?

Jika kita berbicara kita telah membunuhnya. Apakah ia pernah ada? Apakah mungkin kita membunuh tuhan? Maka yang harus dijawab selanjutnya adalah, apakah keberadaan tuhan itu ada sebagai being (eksistensi)? Ataukah hanya konsep belaka?

Faktanya, pada masyarakat yang berbeda-beda, akan muncul tuhan dan dewa yang berbeda. Berbeda pula ideal dan surganya. Artinya, manusia menciptakan tuhan, sesuai dengan keinginan, tuntutan, ataupun pengalaman dalam hidupnya. Konsep sederhana ini dihasilkan dari pergulatan panjang, hasil dialektika dengan dirinya dan lingkungannya. Bukankah, bidadari bermata jeli yang dipingit itu hasil cerminan masyarakat orang arab dan badhui? Surga idaman mereka?

Jadi sudah sepantasnya, surga dan tuhannya pun diciptakan sesuai dengan kondisi masyarakat pada masanya. Bukankah, kerajaan sorga dan kehidupan kekal adalah cerminan ketakutan manusia akan kematian dan sakit penyakit?

Untuk memahami kemunculan tuhan, kita harus memahami psikologi manusia secara pribadi ataupun kolektif. Manusia memunculkan tuhan, secara tidak sadar. Semua harapan, ketakutan, impian, ia wujudkan dalam sosok tuhan. Manusia menyangkali dirinya sendiri karena kehidupannya yang tidak ideal. Ia mengidamkan kebalikannya. Maka daripada itu, ia wujudkan sebuah ideal. Sebuah roh maha, tak terbatas, imajinasinya sendiri. Konsepnya sendiri. Ia bentuk tuhan, sesuai keinginannya, ke-ngotot-annya, blueprintnya, idamannya sendiri lalu tunduk padanya. Bukan tuhan yang membentuk manusia. Melainkan sebaliknya. Manusialah yang menciptakan tuhan sesuai ideal dan gambarannya.

Kita sering melihatnya. Manusia hanya merasa lebih superior, kalau sudah merasa dekat sama tuhan dan memegang kunci surga. Dan apa jadinya jika ia lepaskan ideal ciptaannya itu? Kesengsaraannya akan menjadi nyata. Ia tidak dapat menutupi inferioritasnya dengan tuhan ciptaannya sendiri, ataupun tokoh suci nabi nabinya sendiri.

Yang menjadi malapetaka, ketika tuhan ini mulai memanifestasikan dirinya ke dalam budaya, perilaku, ataupun nilai. Tuhan menginternalisasikan, mewujudkan dirinya dan membentuk super ego manusia. Entah itu, jadi robot-robot Ora Et Labora yang nrimo yang dibodohi dan dalam sebuah delusi hebat. Ataupun, orang-orang yang tak pernah merasa bersalah membakar, membunuh yang dia anggap kafir atas nama teman khayalannya. Teman imajinernya yang tak sedikitpun ada evidencenya, tidak logis dan tak dapat dibuktikan. Sehingga, hanya bisa ia percayai.

Dan, karena sebuah pergulatan panjang ia ciptakan tuhannya. Maka dengan pergulatan panjangpun, ia harus dibunuh. Karena semenjak manusia lahir dia tidak sedikitpun mengenal konsep ketuhanan sampai ia dicekoki dan membentuknya. Sampai akhirnya, ia terseret seret dalam ketakutan yang tidak rasional adanya. Dan lari terbirit-birit menuju mereka yang mengenal tuhan dari jidatnya dan memegang kunci keselamatan.

Manusia tidak akan menemukan dirinya dalam tuhan ataupun agama. Ia harus menemukannya di dalam dirinya sendiri. Membunuh tuhan, artinya ia berani untuk menatap dirinya, kehidupannya, dunianya, sebagaimana adanya.

sumber: kompilasi tweet @agamajinasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s