Percakapan Tentang Waktu

Orang Skeptis: Saya baru saja menjumpai kutipan ini dari Einstein: “Anda harus menerima gagasan bahwa waktu itu subyektif dengan penekanannya pada sekarang itu tidak memiliki makna obyektif… Perbedaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan hanyalah ilusi, betapapun gigihnya.” Einstein pasti gila.

Fisikawan: Sama sekali tidak. Dalam dunia eksternal, tidak ada masa lalu, masa kini dan masa depan. Bagaimana masa kini dapat ditentukan dengan instrumen? Ia murni konsep psikologis.

Orang Skeptis: Jangan begitu, Anda tidak serius. Setiap orang tahu masa depan belum terjadi, sementara masa lalu telah berlalu –kita mengingatnya itu terjadi. Bagaimana Anda bisa mencampuradukkan kemarin dengan besok, atau hari ini untuk masalah tersebut?

Fisikawan: Tentu Anda harus membuat pembedaan antara berbagai hari menurut urutan, akan tetapi label yang Anda gunakanlah yang saya keberatan. Bahkan Anda sepakat bahwa besok tidak pernah muncul.

Orang Skeptis: Itu hanya permainan kata-kata. Besok pasti datang, jika kita menyebutnya hari ini.

Fisikawan: Persis. Setiap hari disebut hari ini pada hari itu. Setiap momen disebut ‘sekarang’ ketika ia dipahami. Pembagian menjadi masa lalu dan masa depan adalah hasil dari pencampuradukan linguistik. Biarkan saya membantu menjelaskan pada Anda. Setiap saat dari waktu dapat disebut sebagai penanggalan tertentu. Misalnya, pukul 02.00 pada 3 Oktober 1977. Sistem penanggalan tersebut bersifat sembarangan, akan tetapi sekali kita telah memutuskan berdasarkan peristiwa atau momen, ia dipastikan sekali untuk selamanya. Dengan memberikan label tanggal kepada semua peristiwa, kita dapat mendeskripsikan segala sesuatu di dunia tanpa mengacu pada konstruksi yang diragukan, seperti masa lalu, masa kini dan masa depan.

Orang Skeptis: Akan tetapi, 2017 ada pada masa depan. Ia belum terjadi. Sistem penanggalan Anda mengabaikan aspek krusial waktu: yaitu geraknya.

Fisikawan: Apa yang Anda maksudkan dengan “2017 ada pada masa depan?” Ia ada dalam masa lalu 2018.

Orang Skeptis: Tetapi sekarang bukan 2018.

Fisikawan: Sekarang?

Orang Skeptis: Ya, sekarang.

Fisikawan: Kapan sekarang itu? Setiap momen adalah ‘sekarang’ jika kita mengalaminya.

Orang Skeptis: Sekarang ini. Yang saya maksud sekarang ini.

Fisikawan: Anda maksudkan 2014 sekarang?

Orang Skeptis: Bila Anda tidak keberatan.

Fisikawan: Bukan 1998 sekarang?

Orang Skeptis: Tidak.

Fisikawan: Jadi, semua yang Anda katakan adalah bahwa 2017 ada dalam masa depan 2014, tetapi ada dalam masa lalu 2018. Inilah persisnya yang dideskripsikan sistem penanggalan saya. Tidak lebih dari itu. Maka, Anda lihat, pembicaraan Anda tentang masa lalu dan masa depan sama sekali tak penting.

Orang Skeptis: Akan tetapi itu sia-sia! 2017 belum terjadi. Itulah fakta yang Anda pasti akan menyetujuinya?

Fisikawan: Tentu. Segala yang Anda katakan adalah bahwa pembicaraan kita terjadi sebelum 2017. Biar saya ulangi. Saya tidak menolak urutan peristiwa yang teratur, dengan hubungan sebelum-sesudah atau masa lalu-masa depan yang pasti antara mereka. Saya hanya menolak eksistensi masa lalu, masa kini dan masa depan. Jelas tidak ada suatu masa kini, karena Anda dan saya mengalami banyak ‘masa kini’ dalam kehidupan kita. Sebagian peristiwa ada dalam masa lalu atau masa depan peristiwa lain, namun peristiwa-peristiwa itu sendiri hanya ada di situ, mereka tidak terjadi satu demi satu.

Orang Skeptis: Itukah yang dimaksudkan oleh sebagian fisikawan ketika mereka mengatakan bahwa peristiwa masa lalu dan masa depan bersamaan dengan masa kini –bahwa mereka agaknya ada di situ, tetapi kita hanya menjumpai peristiwa-peristiwa ini satu demi satu?

Fisikawan: Kita sebenarnya sama sekali tidak ‘menjumpai’ peristiwa-peristiwa itu. Kita menyadari dan mengalami setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa itu tidak menunggu kita menggapainya, singkatnya. Hanya ada peristiwa-peristiwa dan dan kondisi-kondisi mental yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut. Anda berbicara seakan-akan pikiran dewasa ini agaknya bergerak maju dalam waktu agar tersandung pada peristiwa besok. Pikiran Anda berkembang dalam waktu. Kondisi mental besok mencerminkan peristiwa besok, kondisi mental hari ini mencerminkan peristiwa hari ini.

Orang Skeptis: Pasti kesadaran saya bergerak dari hari ini ke besok?

Fisikawan: Tidak! Pikiran Anda sadar akan hari ini dan besok. Tidak ada yang bergerak maju, mundur atau menyamping.

Orang Skeptis: Akan tetapi saya merasakan waktu itu berlalu.

Fisikawan: Tahan sebentar, jika Anda mau memberikan ekspresi. Pertama, Anda mengatakan pikiran Anda bergerak maju dalam waktu, kemudian Anda mengatakan bahwa waktu itu sendiri bergerak maju. Mana yang sebenarnya?

Orang Skeptis: Saya melihat waktu laksana sungai yang mengalir, yang membawa peristiwa-peristiwa masa depan di hadapan saya. Apakah saya dapat melihat kesadaran saya tetap, dan waktu yang mengalir melewatinya, dari masa depan ke masa lalu, ataukah waktu tetap dan kesadaran saya bergerak dari masa lalu menuju masa depan. Saya kita kedua deksripsi tersebut sama. Gerak itu relatif.

Fisikawan: Gerak yang Anda maksud itu ilusi! Bagaimana bisa waktu bergerak? Jika ia bergerak, pasti memiliki kecepatan? Kecepatan apa? Hari per hari? Itu nonsen. Hari adalah hari.

Orang Skeptis: Tetapi jika waktu tidak lewat, bagaimana sesuatu berubah?

Fisikawan: Perubahan terjadi karena obyek-obyek bergerak melalui ruang dalam waktu. Waktu tidak bergerak. Ketika saya anak-anak, saya sering terheran “Mengapa sekarang, bukannya waktu lainnya saja?” Ketika saya tumbuh dewasa, saya melihat bahwa pertanyaan tersebut tidak bermakna. Yang demikian itu dapat ditanyakan terhadap setiap momen waktu.

Orang Skeptis: Saya kira itu sepenuhnya pertanyaan yang absah. Yang lebih penting lagi, mengapa sekarang 2014?

Fisikawan: Ada apa dengan 2014?

Orang Skeptis: Baik, mengapa sekarang 2014?

Fisikawan: Pertanyaan Anda sepertinya menanyakan “Mengapa saya adalah saya dan bukan seseorang yang lain?” Saya adalah saya sendiri –siapapun yang mengajukan pertanyaan tersebut. Jelas, dalam 2014 kita menganggap 2014 sebagai ‘sekarang’. Hal yang serupa berlaku bagi setiap tahun. Suatu pertanyaan yang sah bisa jadi “Mengapa saya hidup pada 2014 dan tidak, katakanlah, 5000 SM?” atau “Mengapa kita melakukan percakapan ini pada tahun 2014 dan bukan 2018?” Akan tetapi, tidak perlu tergiring pada gagasan masa lalu, masa kini dan masa depan dalam pembahasan semacam itu.

Orang Skeptis: Saya masih belum yakin. Hampir semua pemikiran dan aktivitas sehari-hari kita, struktur waktu bahasa kita, harapan, kekhawatiran dan kepercayaan kita, semuanya berakar pada pembedaan fundamental antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Saya takut terhadap kematian, karena saya harus menghadapinya, dan saya tidak yakin terhadap apa yang ada di baliknya. Akan tetapi saya tidak takut terhadap kelahiran, karena saya tidak tahu eksistensi saya sebelum lahir. Kita tidak takut terhadap masa lalu. Lagi-lagi, masa lalu tak dapat diubah. Kita tahu apa yang terjadi karena memori kita. Namun, saya tidak tahu masa depan, dan kita percaya bahwa masa depan itu tidak ditentukan, bahwa tindakan kita dapat mengubahnya. Untuk saat ini, baiklah, itulah saat kita berhubungan dengan dunia eksternal, ketika pikiran kita dapat memerintah badan kita agar bertindak. Byron menulis, “Bertindak, bertindaklah dalam kehidupan sekarang ini.” Yang demikian itu meringkasnya secara menakjubkan bagi saya.

Fisikawan: Sebagian besar dari apa yang Anda kemukakan benar, tetapi tetap saja tidak mensyaratkan masa kini yang bergerak. Tentu, ada asimetri antara masa lalu dan masa depan, tidak hanya dalam pengalaman kita semisal memori, tetapi dalam dunia eksternal. Hukum kedua termodinamika, misalnya, menegaskan bahwa sistem cenderung menjadi semakin tidak teratur. Sistem lain memiliki rekaman akumulasi dan ‘memori’. Perhatikanlah kawah di bulan; itulah rekaman masa lalu, bukan peristiwa masa depan. Semua yang Anda katakan adalah bahwa kondisi otak yang terbelakang telah menampung informasi lebih banyak ketimbang kondisi otak terdahulu. Kita lalu melakukan kesalahan dalam menerjemahkan fakta sederhana tersebut menjadi kata-kata yang kacau dan ambigu, “Kita mengingat masa lalu, bukan masa depan” terlepas dari fakta bahwa masa lalu merupakan ungkapan yang tak bermakna. Sungguh, dalam 2018 kita akan mengingat 2017, yang berada dalam masa depan 2014. Masukkan dalam tanggal dan Anda tidak membutuhkan masa, atau aliran waktu atau sekarang.

Orang Skeptis: Namun, Anda baru saja mengatakan “akan mengingat” diri Anda sendiri.

Fisikawan: Saya dapat katakan: “Kondisi otak saya pada 2018 merekam informasi tentang peristiwa-peristiwa pada 2017. Akan tetapi, 2017 adalah dalam masa depan 2014, sehingga tidak terekam dalam kondisi otak saya pada 2014.” Lihat, sama sekali tidak perlu masa lalu dan masa depan.

Orang Skeptis: Bagaimana dengan ketakutan terhadap masa depan, kehendak bebas dan ketidakmungkinan untuk diprediksi? Jika masa depan sudah ada, itu berarti determinisme mutlak. Tidak ada yang dapat diubah, Kehendak bebas adalah kepura-puraan.

Fisikawan: Masa depan bukan ‘sudah’ ada. Pernyataan tersebut kontradiktif dalam istilah, karena menyatakan ‘peristiwa ada secara simultan dengan peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya’ yang jelas-jelas nonsen bagi kata ‘sebelum’ (prior). Tentang ketidakmungkinan diprediksi, itu adalah suatu pembatasan praktis. Memang kita hanya dapat memprediksi peristiwa sederhana tertentu, seperti gerhana matahari, karena kompleksitas dunia. Akan tetapi kemungkinan untuk diprediksi tidak sama dengan determinisme. Anda mencampuradukkan epistimologi Anda dengan metafisika Anda. Kondisi masa depan dunia dapat ditentukan oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya, tetapi tetap tidak dapat diprediksi menurut ketentuan-ketentuan praktis.

Orang Skeptis: Baik, apakah masa depan telah ditentukan? Maaf. Apakah semua peristiwa sepenuhnya telah ditentukan oelh peristiwa-peristiwa terdahulu?

Fisikawan: Secara aktual tidak. Misalnya, teori kuantum menunjukkan bahwa, pada tingkat atom, peristiwa-peristiwa terjadi secara spontan, tanpa sebab-akibat yang utuh sebelumnya.

Orang Skeptis: Jadi, masa depan itu tidak ada! Kita dapat mengubahnya!

Fisikawan: Masa depan akan terjadi sebagaimana ia akan terjadi, baik tindakan kita sebelumnya terlibat atau tidak. Fisikawan memandang ruang-waktu seakan-akan telah terhampar seperti peta, dengan waktu yang membentang satu arah. Peristiwa-peristiwa ditandai sebagai titik-titik pada peta tersebut –sebagian peristiwa terkait oleh hubungan kausal dengan peristiwa sebelumnya, yang lainnya, seperti hancurnya inti radioaktif, dianggap terjadi secara ‘spontan’. Semua ada di situ, baik ikatan kausal bergabung atau tidak. Maka, pendapat saya bahwa tidak ada masa lalu, masa kini dan masa depan sama sekali tidak menyebutkan kehendak bebas atau determinisme. Itu merupakan persoalan yang sangat terpisah –dan menjadi ajang kebingungan.

Orang Skeptis: Anda masih belum menjelaskan kepada saya mengapa saya merasakan aliran waktu.

Fisikawan: Saya bukan ahli neurologi. Kemungkinan itu terkait dengan proses jangka-pendek.

Orang Skeptis: Anda mengklaim bahwa semua itu ada dalam pikiran –suatu ilusi?

Fisikawan: Anda tidak bijak jika memaksa perasaan Anda untuk menisbahkan sifat-sifat fisik ke dunia eksternal. Pernahkah Anda merasakan pusing?

Orang Skeptis: Tentu.

Fisikawan: Akan tetapi Anda tidak berupaya mengaitkan kepusingan Anda kepada rotasi alam semesta, terlepas dari fakta bahwa Anda merasakan dunia berputar?

Orang Skeptis: Tidak. Itu jelas-jelas ilusi.

Fisikawan: Maka, saya katakan bahwa putaran waktu adalah seperti perputaran ruang –semacam kepusingan temporal—yang salah dimaknai dengan realitas oleh bahasa kita yang membingungkan, dengan struktur masanya dan frase-frasenya yang tak bermakna tentang masa lalu, masa kini dan masa depan.

Orang Skeptis: Jelaskan lagi kepadaku.

Fisikawan: Tidak sekarang. Saya kehabisan waktu…

One thought on “Percakapan Tentang Waktu

  1. Pingback: Percakapan Tentang Waktu – Liku Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s