Agama

Sifat agama itu seperti seks, harusnya privat, bukan publik. Tidak ada gunanya diatur-atur oleh pemerintah. Dalam sejarah Indonesia, eksistensi Departemen Agama itu sempat jadi perdebatan di sidang PPKI. Departemen Agama akhirnya dibuat, sebagai imbalan dari Soekarno karena 7 kata sila pertama dalam Pancasila/Piagam Jakarta soal Syariat Islam itu (“Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) di’ikhlas’kan untuk dihapus.
religion

“Indonesia is a religious nation; so, religious freedom in this country must uphold theistic principles therefore, is not about whether Indonesians may be atheists. All Indonesians should be believers,” Arief told lawmakers. (The Jakarta Post)

Entah apa otaknya yang sudah ancur kelindes onta, atau memang karena tumor bernama agama, jadi nggak punya otak? Sebuah nation adalah subyek. Ia hanya bertindak atas dasar-dasar pengaruh yang diberikan kepadanya. Dan kalau kita jadi bangsa yang digoblokin sama hidayah, itu memang karena nilai-nilai islami yang selama ini kita cerminkan. Di negara-negara maju, Human Rights (Hak Asasi Manusia) itu dijunjung lebih tinggi dari apapun. Wajar kalau kita tertinggal beberapa abad, hanya karena mau mempertahankan nilai-nilai islami. Dan bisa ditarik konklusinya sendiri, apa selama ini nilai-nilai islam itu bertentangan dengan hak asasi manusia?

Lawmaker Adang Daradjatun from the Prosperous Justice Party (PKS) posed another question to Arief, asking him whether or not Indonesia should comply with the universal human rights standards as laid down by the United Nations. He replied “no”, arguing that Indonesia had its own cultural norms. (The Jakarta Post)

Norma budaya yang mana? Yang diimpor dari arab? Yang pasti itu bukan norma budaya saya. Kan cuman mereka saja yang mengaku begitu. Yang pasti, jika Anda cermat memperhatikan pembukaan UUD 1945, penekanannya itu pada hal kemerdekaan dan keadilan. Coba hitung dalam Preambule kata-kata yang terkait dengan kemanusiaan, kemerdekaan, dan keadilan, bandingkan jumlahnya dengan kata (ke)tuhan(an). Lagipula jika mengacu kepada ketuhanan, landasan apa yang dipake sebagai keharusan dari tindakan atau karakter seseorang? Alquran? Alkitab? Tidak ada dalam (Preambule) UUD 1945 yang mengharuskan seseorang berketuhanan. Yang ada hanya berupa anjuran dan kerukunan.

Agama udah kayak pacar yang over controlling. Ngatur-ngatur apa yang boleh dan nggak. Kenapa kalo sama pacar gak tahan tapi kok sama agama tahan? Walaupun, agama memang menjadi bagian penting dalam pembentukan budaya, struktur sosial, hukum, kode moral, bahkan seni.

Kenapa hampir pada setiap budaya, manusia memunculkan agama, punya sistem kepercayaan dan dogmanya sendiri-sendiri? Bagaimana agama menjadi entitas yang ikut terseret dalam arus determinasi? Dari mana dan kenapa agama harus muncul?

Manusia, seperti halnya mahluk hidup lainnya adalah produk dari milyaran tahun evolusi. Dari bakteria ke primata. Kemampuan yang kita miliki, kreativitas ataupun bahasa, merupakan sejarah panjang dari evolusi. Dengan berkembangnya otak, kita mampu mengenal dan menciptakan konsep yang sebelumnya tidak diketahui oleh pra manusia. Kita mulai takut akan kematian, masa depan, ataupun mengagumi hal-hal yang ada di sekeliling kita.

Di sinilah, manusia membutuhkan sebuah jawaban instan untuk menjawab ketidaktahuannya, ketakutannya, kekagumannya. Bagaimana nenek moyang kita tidak mengerti apa yang menyebabkan gempa bumi ataupun bencana yang menimpanya. Manusia purba begitu frustasi atas dunia yang tak bisa mereka jelaskan. Penasaran dan juga bodoh. Apa yang menyebabkan hujan? Bagaimana jika matahari tidak terbit? Bagaimana jika benih yang mereka tanam tidak tumbuh?

Hal-hal demikian yang tidak bisa dikontrol oleh pemimpin mereka sekalipun. Sebuah kekuatan ‘gaib’ yang tidak mereka mengerti. Kemudian menjadi natural, jika mereka meminta perlindungan pada dewa-dewa, figur ayah, pelindung demi survivalitas mereka. Penjelasan dan mitos berbeda di setiap budaya, tapi prinsipnya sama: yaitu ada sebuah kekuatan besar yang menyebabkannya. Bahkan sampai hari ini bukan? Kita meminta perlindungan dan berkat dari sebuah kekuatan yang dipercaya lebih besar. Awalnya manusia menciptakan tuhan untuk pelipur laranya, penyelamat, pelindung dari segala yang tidak dimengertinya. Namun lama kelamaan, menjadi obat bius bermerk “yang maha kuasa”, bergerak menuju posisi absolut. Dari pohon, batu bertuah, arwah nenek moyang menjadi one single bastard, monoteisme yang dimainkan oleh segerombolan orang.

Manusia adalah binatang berkelompok. Kita berkelompok untuk bertahan hidup. Menjadi penting untuk mengenal kelompok. Mengenal kelompok, awalnya sederhana. Metodenya dengan mengenal siapa yang makan bersama-sama, tidur bersama-sama. Tapi, kelompok yang kecil lambat laun menjadi bertambah besar. Mengenal kelompok menjadi bertambah sulit.

Untuk manusia, mengenal kelompok sangat penting. Karena itu pada beberapa budaya, manusia memuja leluhurnya sendiri. Dengan datangnya pertanian, nenek moyang kita tidak lagi berpindah-pindah, tapi bermukim di suatu tempat. Di sinilah agama memainkan perannya yang baru, yaitu menjadi identitas suatu kelompok. Orang dengan iman yang sama, ritual yang sama, pemikiran yang sama, adalah orang dari budaya dan tempat yang sama. Fungsi agama yang ini cocok pada jaman primitif, di mana komunitas masih homogen. Tetapi kenyataannya, pada jaman sekarang ini agama tidak mempersatukan, justru mempecah pecahkan dan mengancam.

Bisa kita lihat, ekspansi islam 1400 tahun lalu, atau propaganda keagamaan oleh ekstrimis kristen, muslim, atau yahudi. Jalannya mother nature. Kalau yang tidak mendukung survivalitas kita, seperti apa yang dilakukan agama suatu waktu akan rontok. Semenjak kapasitas berpikir kita mulai berkembang, ego kita juga ikut berkembang. Kita memunculkan ide: “ini tempat tinggalku”, “ini bajuku”, “ini partner seksualku”. Komunitas harus mempunyai kode-kode moral di dalam kelompoknya untuk mencegah kekacauan. Pemimpin bisa saja mati, sehingga dibutuhkan sebuah sandaran yang lebih besar dari mereka. Sandaran apalagi, kalau bukan junjungan yang mereka percaya mempunyai kuasa atas hidup dan mati, dan harus dihormati. Demi bertahan hidup, kita memang harus saling membantu dalam kelompok. Hal ini sudah terpatri di dalam diri kita.

Manusia hanya berdelusi, ia menganggap bahwa kebaikan di dalam dirinya datang dari yang lebih besar darinya. Tapi selama ribuan tahun, akhirnya kode-kode moral yang disandarkan kepada agama ini terbukti gagal. Setidaknya kita bisa sepakat, bahwa tindakan orang beragama, terutama di Indonesia, ngaco dan irasional. Tindakan ngaco ini malah dilembagakan, dilegalkan secara hukum, sah secara sosial dan seakan akan menjadi masuk akal secara rasional. Moralitas yang kita ciptakan, adalah moralitas yang berdasarkan tahayul.

Agama menciptakan ketidakadilan antara laki laki-perempuan, percaya-tidak percaya, kebodohan atas pengetahuan, dan kefanatikan. Agama tampak seperti baby walker di masa yang sekarang. Mau semahal apapun, baby walker diperuntukkan hanya untuk yang baru belajar jalan. Mass delusion maha besar ini sudah cukup sampai di sini membentuk segala kedunguan, kebobrokan dan budaya kita.

sumber: kompilasi tweet @agamajinasi

One thought on “Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s