Sains dan Agama dalam Dunia yang Berubah

Sains dan agama mewakili dua sistem besar pemikiran manusia. Bagi kebanyakan orang, agama memberikan pengaruh yang dominan terhadap perilaku kehidupan mereka. Ketika sains berdampingan dengan kehidupan mereka, ia berhimpitan tidak pada pada tingkat intelektual, namun secara praktis, melalui teknologi.

science-religion

Terlepas dari pemikiran religius dalam kehidupan sehari-hari khalayak publik, sebagian besar institusi kita secara pragmatis diatur dengan agama, lantaran ia terlibat dalam segala urusan. Contohnya seperti posisi konstitusional Gereja Inggris. Namun terdapat pengecualian: Irlandia dan Israel menjadi negara agama dalam pengertian umum, sementara kebangkitan Islam militan sedang meningkatkan pengaruh agama dalam pengambilan keputusan politis dan sosial.

Dalam dunia industri, di mana pengaruh dan keberhasilan sains sangat mencolok, terdapat suatu kemerosotan tajam dalam berafiliasi dengan institusi-institusi penting keagamaan tradisional. Di Inggris, hanya sebagian kecil penduduk yang mengunjungi gereja secara rutin. Namun, salah jika kita berkesimpulan bahwa penurunan berkunjung ke gereja secara langsung dapat dinisbahkan kepada profil sains dan teknologi yang menanjak. Dalam kehidupan pribadi, banyak orang yang masih memegang kepercayaan mendalam tentang dunia yang dapat digolongkan bersifat religius, meskipun mereka bisa jadi menolak, atau paling tidak mengabaikan, doktrin-doktrin tradisional Kristiani. Dan setiap saintis akan memverifikasi bahwa, jika agama telah hilang dari kesadaran manusia, maka agama itu pasti akan digantikan oleh pemikiran saintifik rasional. Karena sains, terlepas dari pengaruhnya yang sangat luas terhadap kehidupan kita pada tingkat praktis, sulit dipahami dan tak dapat diakses oleh khalayak publik.

Yang lebih relevan dengan kemerosotan agama ialah fakta bahwa sains, melalui teknologi, telah mengubah kehidupan kita bagitu radikal sehingga agama-agama tradisional mungkin terlihat tidak memiliki sikap cekatan yang diperlukan untuk memberikan bantuan yang nyata dalam mengatasi persoalan-persoalan personal dan sosial kontemporer. Jika Gereja dewasa ini banyak diabaikan, itu bukan karena sains akhirnya telah memenangkan pertarungannya yang telah berlangsung lama dengan agama, tetapi karena ia telah me-reorientasikan masyarakat kita begitu radikal sehingga perspektif Kitab-Kitab Suci tentang dunia sekarang tampak sangat tidak relevan.

Agama-agama besar dunia, yang didasarkan pada kebijaksanaan dan dogma yang telah diterima, berakar di masa lalu dan tidak gampang mengatasi zaman yang terus berubah. Fleksibilitas yang diungkap dengan tergesa-gesa telah memungkinkan agama (Kristen) untuk menggabungkan beberapa aspek baru dari pemikiran modern, sehingga para pemimpin gereja dewasa ini mungkin terlihat sebagai tukang bidah di mata kaum Victorian. Namun, setiap filsafat komprehensif yang didasarkan pada konsep-konsep kuno menghadapi tugas berat dalam beradaptasi dengan era ruang angkasa. Akibatnya, banyak orang beriman yang kecewa yang kemudian berpaling ke agama-agama ‘pinggiran’ yang tampaknya lebih selaras dengan era Perang Bintang dan microchips. Peningkatan besar popuaritas kultus yang dikaitkan dengan UFO, ESP, kontak-kontak spirit, Scientology, meditasi transedental dan kepercayaan yang didasarkan pada teknologi lainnya membuktikan daya tarik keyakinan dan dogma agama yang terus berlanjut dalam masyarakat rasional dan saintifik secara superfisial. Meskipun gagasan-gagasan sinting ini memiliki landasan ilmiah, gagasan-gagasan tersebut tanpa rasa malu sangat tidak rasional, meminjam istilah Christopher Evans (1974): “kultus-kultus yang tidak masuk akal”. Masyarakat berpaling ke kultus-kultus tersebut bukan demi pencerahan intelektual, melainkan demi ketenangan spiritual dalam sebuah dunia yang keras dan tak menentu.

Jadi, sains telah menyerbu kehidupan, bahasa dan agama kita, tetapi tidak pada tingkat intelektual. Kebanyakan orang tidak memahami prinsip-prinsip saintifik, mereka pun tidak tertarik padanya. Sains tetap menjadi sejenis ilmu sihir, penggunanya dipandang dengan rasa kagum dan curiga. Kepura-puraan mungkin menggantikan arti penting sains dan pemikiran rasional untuk mengatur masyarakat kita, akan tetapi pada tingkat personal, kebanyakan orang masih melihat doktrin keagamaan lebih persuasif ketimbang argumen-argumen saintifik.

Kita hidup dalam suatu dunia yang masih religius secara fundamental. Terhampar dari negara-negara seperti Iran dan Saudi Arabia, di mana Islam masih menjadi kekuatan sosial yang dominan, hingga negara-negara industri Barat, di mana agama telah terpecah belah, kadangkala masuk ke dalam takhayul pseudo-saintifik yang samar-samar, pencarian akan makna yang lebih mendalam bagi kehidupan terus berlangsung. Pencarian tersebut juga tidak dicemooh. Para saintis juga melakukan pencarian makna: dengan jalan menunjukkan lebih jauh cara alam semesta terbentuk dan bagaimana cara kerjanya, tentang hakikat kehidupan dan kesadaran, mereka dapat memasok bahan mentah yang darinya kepercayaan-kepercayaan keagamaan terbentuk. Memperdebatkan masa penciptaan adalah 4.004 SM (Sebelum Masehi) atau 10.000 SM tidaklah relevan, jika pengukuran saintifik menunjukkan bumi berusia 4,5 miliar tahun. Tidak ada agama yang menyandarkan kepercayaannya pada asumsi-asumsi yang terbukti salah dapat berharap untuk bertahan lama.

Baik sains maupun agama memiliki dua wajah: intelektual dan sosial. Dalam kedua kasus tersebut, dampak sosial lebih banyak dikehendaki. Sains dapat meringankan kesengsaraan penyakit dan untuk hiburan dan kesenangan kita, tetapi ia juga menimbulkan senjata-senjata pemusnah massal yang menakutkan dan secara serius memerosokkan taraf kehidupan. Dampak sains terhadap masyarakat industri telah menjadi berkah yang beraneka ragam.

Di sisi lain, agama yang terlembaga jatuh berguguran, bahkan lebih buruk. Tak seorangpun menyangkal banyak perkara pengabdian individual tanpa pamrih oleh para aktivis komunitas beragama di seluruh dunia, akan tetapi agama telah lama menjadi terlembaga, seringkali lebih banyak melalui kekuasaan dan politik daripada melalui kebajikan dan kejahatan. Semangat keagamaan sangat sering menjadi jembatan menuju konflik sengit, yang merusak toleransi manusia yang normal dan melepaskan kendali kekejaman barbarian. Pembunuhan massal oleh orang-orang Kristen tehadap panduduk pribumi Amerika Selatan pada Abad Pertengahan merupakan salah satu contoh yang lebih mengerikan, bahkan sejarah Eropa pada umumnya dikotori oleh mayat-mayat mereka yang terbunuh karena perbedaan doktrinal kecil. Bahkan dalam era yang disebut pencerahan, kebencian dan konflik keagamaan membusuk di seluruh dunia. Tentu ironis bahwa meskipun mayoritas agama memuji kenajikan-kebajikan cinta, kedamaian dan kerendahan hati, sering juga kebencian, perang dan arogansi mencirikan sejarah organisasi keagamaan besar.

Banyak saintis yang kritis terhadap agama-agama yang terlembaga, bukan karena kandungan spiritual personalnya, tetapi karena pengaruhnya yang merusak perilaku manusia lain, terutama ketika agama-agama itu terjun ke dalam politik kekuasaan. Fisikawan Hermann Bondi merupakan kritikus keras terhadap agama, yang dipandangnya sebagai ‘kejahatan yang serius dan pembentuk tradisi kejahatan’. Bondi mengklaim bahwa kekuasaan zalim yang dimiliki Gereja dan lembaga-lembaga keagamaan lainnya selama berabad-abad membiarkan oraganisasi-organisasi ini bangkrut secara moral.

Tidak banyak orang yang membantah bahwa agama, dengan segala pretensinya, tetap merupakan salah satu kekuatan paling memecah belah dalam masyarakat. Apapun niat baik orang beriman, sejarah konflik agama yang penuh darah memberikan sedikit bukti tentang standar universal moralitas manusia di antara agama-agama besar yang terlembaga. Juga tidak ada alasan untuk percaya bahwa cinta dan perhatian hilang dalam diri mereka yang tidak termasuk dalam organisasi-organisasi itu, atau bahkan kaum ateis berkomitmen tinggi.

Tentu, tidak semua pemeluk agama adalah orang-orang fanatik. Mayoritas umat Krisiani dewasa ini memiliki rasa jijik terhadap konflik keagamaan dan menyesalkan keterlibatan Gereja masa lalu dalam penganiayaan, pembunuhan dan penindasan. Akan tetapi, pecahnya kekejaman dan kebrutalan spektakuler atas nama Tuhan yang masih mengganggu masyarakat dewasa ini bukan hanya sebagai manifestasi wajah anti-sosial agama. Ketimpangan dalam pendidikan dan tempat tinggal terus berlangsung di beberapa negara yang dipandang beradab, seperti Irlandia Utara dan Siprus. Bahkan dalam kelompok mereka sendiri, organisasi-organisasi keagamaan sering menyetujui prasangka, baik terhadap kaum perempuan, minoritas rasial, homoseksual ataupun siapa saja yang ditetapkan oleh para pemimpin mereka sebagai orang rendahan.

Begitu banyak sisi sosial agama. Bagaimana dengan kandungan intelektualnya?

Selama bagian terbesar dari sejarah manusia, laki-laki dan perempuan berpaling ke agama bukan hanya demi petunjuk moral, tetapi juga demi jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan fundamental tentang eksistensi. Bagaimana alam semesta tercipta dan bagaimana ia akan berakhir? Bagaimana asal-muasal kehidupan dan umat manusia? Hanya dalam beberapa abad terakhir sains mulai memberikan kontribusinya terhadap masalah-masalah semacam itu. Benturan-benturan yang ditimbulkannya telah terdokumentasikan dengan baik. Mulai dari awal di tangan Galileo, Copernicus dan Newton, kemudian Darwin dan Einstein, hingga era komputer dan teknologi tinggi, sains modern telah memberikan pandangan yang dingin dan kadangkala mengancam banyak kepercayaan agama yang sudah berurat-akar. Karena itu, muncullah perasaan bahwa sains dan agama tidak dapat didamaikan dan saling bertentangan. Itulah kepercayaan yang didorong oleh sejarah. Upaya-upaya awal oleh Gereja untuk menutup pintu gerbang kemajuan saintifik telah meninggalkan kecurigaan yang dalam terhadap agama di kalangan komunitas saintifik. Di lain pihak, para saintis telah menghancurkan banyak kepercayaan agama yang dihormati dan kemudian dipandang oleh banyak orang sebagai ‘tukang-bongkar keyakinan’.

Namun, tidak diragukan lagi tentang keberhasilan metode saintifik. Fisika telah membuka persepsi pemahaman manusia yang tidak diduga beberapa abad yang lalu. Dari cara kerja atom dari dalam hingga surealisme lubang hitam yang aneh, fisika telah memungkinkan kita memahami beberapa rahasia alam yang paling gelap dan memperoleh kendali atas banyak sistem fisik dalam lingkungan kita. Kekuatan dahsyat penalaran saintifik ditunjukkan sehari-hari dalam berbagai keajaiban teknologi modern. Jadi, tampak cukup masuk akal untuk mempercayai pandangan-dunia para saintis juga.

Saintis dan teolog mendekati masalah eksistensi yang mendalam dari titik tolak yang berbeda. Sains didasarkan pada pengamatan dan eksperimen yang cermat yang memungkinkan berbagai teori terbentuk yang menghubungkan pengalaman-penglaman yang berbeda. Keteraturan dalam kerja alam dicari dengan penuh harapan dapat menampakkan hukum-hukum fundamental yang mengatur perilaku materi dan energi. Yang utama bagi pendekatan ini adalah keinginan saintis untuk meninggalkan suatu teori jika bukti yang ditemukannya berlawanan. Meskipun masing-masing saintis mungkin berpegang teguh pada gagasan yang dihormati, komunitas saintifik sebagai kelompok selalu siap mengadopsi suatu pendekatan baru. Tidak ada perang baku-tembak seputar prinsip-prinsip saintifik.

Sebaliknya, agama dibangun berdasarkan wahyu dan kebijaksanaan. Dogma agama yang mengklaim mengandung Kebenaran yang tak dapat diubah sulit untuk dimodifikasi agar selaras dengan gagasan-gagasan yang berubah. Penganut setia harus teguh dalam keyakinannya meskipun bukti nyata menentangnya. ‘Kebenaran’ ini konon dikomunikasikan secara langsung kepada pengikut, bukan melalui proses penyaringan dan penyulingan terhadap investigasi kolektif. Masalah mengenai ‘kebenaran’ yang diwahyukan adalah bahwa itu bisa saja salah, dan kalaupun benar, orang lain membutuhkan alasan logis untuk memegang kepercayaan sang penerimanya.

Banyak saintis (dan ateis) yang mencemooh kebenaran wahyu. Sungguh, sebagian mereka berpendapat bahwa kebenaran semacam itu merupakan suatu kejahatan yang positif:

Secara umum, kondisi pikiran orang beriman terhadap wahyu adalah arogansi yang hebat yang menyatakan ‘Aku tahu, dan mereka yang tidak sepakat dengan keyakinanku adalah salah’. Arogansi semacam itu menyebar luas ke bidang lain, orang-orang juga tidak begitu pasti tentang ‘pengetahuan’ mereka dalam bidang lain. Agaknya, cukup menjijikan bahwa seseorang harus merasa superior, terpilih, dan istimewa terhadap semua yang berbeda dalam kepercayaan atau keingkarannya. Ini menjadi cukup buruk, namun begitu banyak orang beriman mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk mendakwahkan agama mereka, paling tidak kepada anak-anak mereka, tetapi sering juga kepada orang lain (dan secara historis terdapat banyak contoh perbuatan ini dilakukan dengan kekuatan dan kebrutalan yang kejam). Fakta yang menempatkan seseorang ke permukaan adalah bahwa orang-orang yang berketulusan hati yang besar dan memiliki tingkat kecerdasan itu berbeda dan selalu berbeda dalam kepercayaan agamanya. Karena pada akhirnya satu agama yang benar, akibatnya manusia sangat mudah untuk meyakini dengan tulus dan jujur terhadap sesuatu yang tidak benar dalam bidang agama wahyu. Seseorang akan mengharapkan agar fakta yang nyata ini mendorong pada kerendahan hati, pada pemikiran bahwa betapapun dalamnya kepercayaan seseorang, bisa jadi ia salah. Tidak ada yang lebih penting dari orang beriman, selain daripada kerendahan hati yang mendasar ini. Segala yang ada dalam kekuasaannya (yang dewasa ini di beberapa negara berkembang cenderung terbatas bagi anak-anaknya) harus memiliki kepercayaannya yang dicekokkan pada tenggorokan mereka. Dalam banyak hal, anak-anak sungguh diindoktrinasi dengan pemikiran yang memalukan sehingga mereka menjadi bagian dari kelompok yang berpengetahuan superior yang mempunyai saluran pribadi dengan kantor Yang Maha Kuasa, sedangkan yang lainnya kurang beruntung dibandingkan dengan mereka?

Meskipun demikian, mereka yang memiliki pengalaman keagamaan secara umum menganggap wahyu personalnya sendiri sebagai dasar kepercayaan yang benar daripada sejumlah eksperimen saintifik. Memang, banyak saintis profesional yang sangat religius dan tidak mempunyai banyak kesulitan untuk hidup berdampingan secara damai. Masalahnya adalah bagaimana menerjemahkan pengalaman keagamaan yang berbeda ke dalam suatu pandangan-dunia keagamaan yang koheren. Kosmologi Kristen, misalnya, secara radikal berbeda dengan kosmologi Timur. Paling tidak salah satunya pasti salah.

Namun, salah besar menyimpulkan dari kecurigaan saintis terhadap kebenaran wahyu bahwa dia pada dasarnya adalah individu yang dingin, tukang hitung yang tak bernyawa, hanya tertarik pada fakta-fakta dan angka-angka. Sungguh, kemunculan fisika baru diiringi dengan pertumbuhan kepentingan yang luar biasa terkait implikasi filosofis sains yang lebih dalam. Ini merupakan sisi upaya saintifik yang kurang dikenal, dan seringkali muncul sebagai keheranan yang sempurna. Ahli patologi, penulis dan produser televisi, Kit Pedler, menggambarkan kekagumannya, ketika merencanakan suatu serial televisi mengenai jiwa dan paranormal, di persimpangannyalah para fisikawan modern menaruh perhatian terhadap masalah-masalah yang lebih besar:

Selama hampir dua puluh tahun saya memenuhi masa riset saya sebagai reduksionis biologi yang bahagia yang percaya bahwa penelitian saya yang saksama akhirnya akan mengungkapkan kebenaran-kebenaran tertinggi. Lalu saya mulai membaca fisika baru. Pengalaman itu menghancurkan.

Sebagai ahli biologi saya membayangkan para fisikawan sebagai lelaki dan perempuan yang tenang, bersih dan tidak emosional, yang melihat alam dari sudut pandang klinis yang obyektif –orang-orang yang mereduksi terbenamnya matahari menjadi panjang dan frekuensi gelombang, dan para pengamat yang mengoyak kompleksitas alam semesta menjadi elemen-elemen yang kaku dan fornal.

Kesalahan saya sangat besar. Saya mulai mempelajari karya-karya orang-orang yang namanya melegenda: Einstein, Bohr, Schrodinger, dan Dirac. Saya melihat bahwa di sini tidak ada orang-orang klinis dan obyektif, tetapi orang-orang puitis dan religius yang membayangkan keluasan yang luar biasa semacam itu untuk menjadikan apa yang saya sebut sebagai ‘paranormal’ nyaris sebagai pejalan kaki melalui perbandingan.

Adalah ironis bahwa fisika, yang telah meratakan jalan bagi seluruh sains lainnya, sekarang bergerak ke arah pandangan pikiran yang lebih akomodatif, sementara sains kehidupan, yang mengikuti langkah fisika akhir abad ini, mencoba menghilangkan obyektif pikiran. Psikolog Harold Morowitz telah berkomentar atas keterbalikan yang aneh ini:

Apa yang terjadi adalah, para ahli biologi, yang pernah menegaskan peran istimewa bagi pikiran manusia dalam hirarki alam, telah bergerak tanpa henti menuju materialisme kaku yang mencirikan fisika abad ke-19. Pada saat yang sama, para fisikawan yang berhadapan dengan bukti eksperimen yang kuat, berpaling secara sporadis dari model-model mekanis alam semesta yang kaku ke pandangan yang melihat pikiran memainkan peran integral dalam semua peristiwa fisik. Dua disiplin itu seolah-olah berada pada kereta ekspress, yang bergerak dalam arah berlawanan dan tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sisi jalan.

Fisika baru telah memberikan kepada ‘pengamat’ peran sentral dalam hakikat realitas fisik. Semakin banyak orang percaya bahwa kemajuan muthakir dalam sains dasar agaknya dapat menyingkap makna eksistensi yang lebih dalam daripada daya tarik terhadap agama tradisional. Bagaimanapun, agama tidak dapat mengabaikan kemajuan-kemajuan ini.

(Dirangkum dari God and the New Physic)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s