Better Off without God?

Tulisan ini saya copy paste dari sebuah artikel yang berjudul sama karna isinya cukup bagus, namun di beberapa bagian kecil dan bagian akhirnya tidak saya masukkan karna menurut saya menawarkan solusi subyektif dangkal yang ‘menodai’ paragraf-paragraf sebelumnya, terutama karna tidak membahas sains sama sekali. Namun artikel aslinya bisa dibaca di sini –> Better Off without God?

Selamat menyimak.

Setelah “Da Vinci Code”, buku “The God Delusion” adalah salah satu best-selling book yang sudah menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak muda. Buku ini telah membakar semangat atheis-atheis muda untuk “menginjili” orang-orang di sekitarnya supaya convert ke atheisme. “Penginjilan” tersebut sudah menyebar secara luas melalui internet dan “Convert’s Corner“. Tren ini tidak kalah dengan terbitnya buku lain karangan The Letter to a Christian Nation yang dengan gencarnya menyerang kekristenan di Amerika, sampai-sampai digelar “God Debate” antara Sam Haris dan Rick Warren. Sebenarnya cukup mengherankan melihat atheisme yang sebelumnya hanyalah suatu keyakinan yang bersifat pasif telah ber-“evolusi” menjadi sesuatu yang agresif. Bahkan ada suatu usaha untuk mengubah stereotipe tentang atheisme; seorang atheis bukan lagi orang jahat dan tidak berperasaan, melainkan baik hati dan penuh amal.

Mengapa dunia seakan sudah terbalik: atheis yang “menginjili” dan bukan sebaliknya? Bukankah orang atheis tidak mendapatkan untung apa-apa jika mereka ‘memenangkan banyak jiwa’ untuk masuk ke atheisme? Atau jangan-jangan yang memotivasi mereka yaitu fakta bahwa orang beragama sudah terlalu lama jadi batu sandungan dan sudah menyebabkan banyak sekali pertumpahan darah, sehingga mungkin lebih baik yang namanya agama dan kepercayaan-kepercayaan itu dihilangkan saja? Apakah selama ini kehidupan kita sebagai orang Kristen tidak menjadi teladan bagi mereka, seperti dalam Ted Haggard, Leader dari National Association of Evangelicals, yang mestinya menginjili jiwa-jiwa yang tersesat, tetapi malah menyesatkan diri sendiri? Hal-hal ini yang bikin saya kaget, sedih, dan bahkan memaklumi adanya gerakan Evangelical Atheist seperti itu.

Saya selalu berpikir apa yang akan saya katakan kepada atheis atau freethinker jika suatu saat mereka confront saya. Buku “The God Delusion”, misalnya, terus-menerus menghina orang percaya dari halaman pertama sampai akhir. Menurut mereka, theis adalah orang yang IQ-nya rendah sekali. Mengapa peraih Nobel hampir 90% orang atheis dan mengapa di dunia ilmiah jarang sekali kita temukan orang Kristen? “Yah, karena mereka memang bodoh dan tidak qualified untuk mendebat kita orang atheis yang secara umum IQ-nya lebih superior,” begitulah kira-kira argumen Richard Dawkins. Kalimat-kalimat yang saya baca di buku tersebut sejujurnya menyulut sedikit emosi saya sebagai orang Kristen. Argumen Dawkins itu separuhnya benar, karena memang banyak orang Kristen yang tidak mau menuntut diri di dunia intelektual, dengan alasan takut dibilang “kurang beriman”.

Setelah membaca lebih dari setengah bagian buku ini, ternyata argumen-argumen yang dipakai dalam buku itu tidak jauh-jauh dari semangat abad-abad sebelumnya, yaitu yang secara mayoritas dipengaruhi oleh Marxisme (abad ke-19) dan Eksistensialisme (abad ke-20). Oleh karena itu saya merasa sangat penting untuk menganalisa atheisme dari kedua arus besar ini. Marxisme dan Eksistensialisme adalah dua paham yang sepakat dalam satu hal, yaitu manusia hidup dalam keterasingan (alienation). Namun, kedua paham ini mengambil approach yang berbeda. Marxism mengatakan alienation terjadi karena manusia gagal menghidupi dignitas manusia yang semestinya. Dignitas manusia menurut Marxisme adalah kebebasan yang seluas-luasnya berdasarkan kapasitas manusia tersebut. Dignitas manusia hilang karena nilai manusia sudah berubah menjadi suatu objek yang menghasilkan produk saja di pabrik-pabrik, suatu objek penghasil gaji (mirip dengan iklan “From 9 to 5 until I am 95”?), dan karena kaum kapitalis yang menjajah dan merampok harta yang paling berharga dari manusia, yaitu “waktu” hidupnya. Dan hasil dari kerja tersebut tidak kembali kepada si pekerja melainkan kepada si pemilik pabrik. Efek dari alienation ini adalah ide-ide yang kita pelajari di filsafat. Jadi ide adalah konsekuensi (bukan penyebab) dari hidup kita yang tidak terpenuhi. Lalu apa hubungannya dengan ada atau tidak adanya Tuhan?

Menurut Ludwig Feuerbach, guru Karl Marx, Tuhan adalah salah satu manifestasi ide-ide tersebut. The Essence of Christianity, “We created god according to our image and likenesses”. Ini betul-betul kalimat di kitab Kejadian yang diputarbalikkan. Kenapa Feuerbach bisa berkesimpulan seperti ini? Karena realitanya yaitu manusia tidak bisa berkapasitas sebesar yang dia mau, dan oleh karenanya berusaha mencari kompensasi dan mengatributkan segala sesuatu yang mereka inginkan ke oknum yang bernama “tuhan”. Buktinya? Semua atribut-atribut Tuhan itu adalah atribut-atribut yang sangat manusiawi, seperti: maha adil, maha kasih, maha kuasa, dan sebagainya. Manusia tidak mampu mengerti hal-hal yang ada di sekitarnya, termasuk makna hidupnya sendiri, lalu berespon dengan cara membuat suatu pemahaman supernatural yang transendental yang bisa menjelaskan absurditas hidupnya. Ini adalah akar dari berbagai macam takhayul, agama, dan kepercayaan.

Bagaimana Marxisme menawarkan solusi dari alienation tersebut? Bukan dengan menemukan ide-ide seperti yang filsafat dan agama lakukan, tapi dengan menjembatani kebutuhan manusia sesuai dengan kapasitasnya. Marx berpendapat, “The point of philosophy is not just to understand the world but to change it”. Filsafat dan ‘isme-isme’ yang lain hanya membuang waktu dengan keasyikan berteori soal situasi manusia, tapi tidak pernah berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Apa gunanya filsafat yang begitu rumit, yang pada akhirnya hanya dipakai untuk ajang pamer kepintaran? So what kalau kita begitu pintar bisa menganalisa situasi manusia, tapi tidak ada uang untuk makan? Dan apa juga poinnya berfilsuf ria kalau memang masalahnya cuma karena saya kurang makan?

Jadi cara pertama adalah revolusi. Dalam konteks di mana Marx hidup, para pekerja harus melakukan revolusi terhadap kaum kapitalis tertentu yang menindas para pekerja (Marx hanya benci kaum kapitalis tertentu). Konon, tidak aneh bagi para pekerja untuk memakai opium supaya tetap semangat bekerja, sementara gaji yang mereka dapat begitu pas-pasan. Tidak heran kalau Marx menggeneralisasikan fenomena ini di dalam perkataannya yang terkenal: “Religion is the opium for the people”. Dengan demikian, dignitas manusia bisa dikembalikan ke tempat yang sebelumnya.

Cara kedua adalah Dialectical Materialism. Takhayul, agama, dan kepercayaan dibuang karena hal-hal tersebut tidak bisa diverifikasi secara ilmiah, dan hanya melumpuhkan manusia dengan ketakutan yang tidak berdasar. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ketakutan-ketakutan tersebut perlahan-lahan akan hilang karena manusia akan semakin mengerti, with confidence, tentang alam semesta. Dengan demikian manusia semakin bebas dari ketakutan yang menjajah hati nuraninya dan dapat mengaktualisasi diri seiring dengan kapasitas mereka. Inilah yang Richard Dawkins coba propagandakan kembali di abad ini, di mana sudah terlalu banyak orang yang membius diri dengan loncat-loncat, nyanyi-nyanyi, sembah-sembah oknum yang tidak ada, cuma semata-mata karena mereka tidak mampu untuk cope dengan masalah mereka dan kemudian ‘lari’ ke “Tuhan”. Namun jika paham ini begitu mulia seperti yang diklaim, mengapa di abad ke-20 ideologi ini malah memakan 100 juta nyawa (hampir 15 kali lebih dasyat dari holocaust), di mana 60%-nya terjadi di China? Mengapa terdapat gap antara ideologi yang mulia ini dengan realita hidup? Bukankah Marxism mengajarkan, “The point of philosophy is not just to understand the world but to change it?” Change ke arah mana? Kemakmuran atau kehancuran? Optimisme Marxisme juga ternyata tidak dapat menjembatani ide dengan kebutuhan manusia (seperti ideologi-ideologi lainnya yang dikritik olehnya).

Kalau Marxisme itu versi optimis dari atheisme, maka Eksistensialisme adalah versi pesimisnya. Eksistensialisme atheistik merupakan salah satu reaksi dari Perang Dunia I dan II yang secara terbuka bilang tidak mau percaya keberadaan Tuhan dan tidak berminat membuktikannya. Eksistensialisme mengatakan bahwa keterasingan (alienation) dalam jiwa manusia tidak akan bisa disembuhkan. Hidup tetap saja absurd dengan ada atau tidak adanya Tuhan. Bagi yang tertarik bisa baca The Stranger, karangan Albert Camus. “So what if God exists? It will make no difference”, begitulah kira-kira. Jadi bagaimana dong kalau keterasingan ini tidak bisa diobati? Manusia tidak bisa apa-apa dan harus pasrah menerima situasi ini. Hidup tidak ada makna dan bahkan bunuh diri pun sia-sia. Paling mungkin, kita masih bisa mencoba menjadi tragic hero, yang mencapai hal-hal besar untuk kesia-siaan, karena toh pasti diakhiri dengan kematian. Dalam mitos Sisyphus, seorang dewa Yunani dikutuk untuk mendorong batu besar ke puncak gunung supaya batu itu jatuh lagi, dan supaya ia dorong lagi dari bawah ke atas, dan seterusnya sampai selama-lamanya. Dalam kutukan ini, Sisyphus hanya punya dua pilihan: to learn to love the curse, or to rebel and curse back the gods. Either way, dia tetap harus menjalani kutukan itu. It does not matter which choice he takes since it leads to the same meaninglessness.

Kalau tidak mau bunuh diri, lalu mau ngapain dalam hidup ini? Jean Paul Sartre pernah berkata, “We are condemned to be free“. Berbeda dengan atheis yang tidak bertanggung jawab yang berpikir, “Kalau Tuhan tidak ada, bisa berdosa seenaknya!” Sartre malah berpendapat bahwa karena Tuhan tidak ada, maka semua itu jadi 100% tanggung jawab kita dan bukan sebaliknya! Kita harus membuat keputusan setiap saat, setiap detik. Bahkan tidak memutuskan apa-apa pun tetap merupakan suatu keputusan, dan keputusan kita itu akan mempengaruhi seluruh masyarakat. Baik atau tidak baiknya masyarakat di sekitar kita ditentukan oleh pilihan kita. Keputusan-keputusan ini akan memberikan konsekuensi yang membatasi kebebasan selanjutnya, jadi setiap keputusan yang diambil betul-betul harus dipikir. Hidup cuma sekali, so live it well with full responsibility. Kebudayaan dan seni yang tinggi adalah manifestasi dari keterasingan ini, yang sebenarnya merupakan suatu usaha mengalihkan pikiran manusia dari kematian. Begitu juga dengan agama, yang hanya dipakai “to comfort people before facing death or to make people feel better about their situation”. Arti hidup tidak pernah didefinisikan sebelum kita diciptakan (baca: ada), melainkan kitalah yang menciptakan arti hidup kita. Sartre bilang, “The existence precedes essence”, yang berarti kita ada dulu baru mencari-cari arti hidup kita. Apakah makna dari batu? Bikin bangunan, bikin senjata, atau buat nimpukin orang? Bagaimana dengan meja? Untuk menulis atau untuk duduk? Kenapa bentuk hidung saya seperti ini? Mungkin supaya cocok dengan kacamata saya. The self-invented meaning of life is just to make people feel worthy, at least in this life. Seperti Heidegger katakan, “To learn philosophy is to learn how to die”. Ketika kita sadar kita pasti akan mati, misalnya divonis penyakit, kita baru belajar how to live with meaning (mungkin ada yang pernah baca atau nonton “Tuesdays with Morrie”?). But what is the point in rationally analyzing the meaning of absurdities in life? Nothing. What is the point in inventing the meaning amidst the absurdities of life? Nothing. Then why persisting? Situasi kita persis seperti Sisyphus; pilihan apa pun tetap tidak ada artinya. Mau mati karena bunuh diri atau mati karena tua, it simply makes no difference. Jadi makna hidup para Eksistensialis mulai dari sini. Itulah kesimpulan dari paham ini, murung sekali ya. Betapa gelapnya keberadaan kita.

Semenjak rasio dielu-elukan di Enlightenment era, orang begitu sombong mencoba membuktikan Tuhan tidak ada. Sehabis Perang Dunia, orang mulai pesimis tentang kemampuan rasio menyelesaikan masalah manusia. Sehabis komunis gagal, manusia mulai hilang harapan. Sampai akhirnya di abad ini, yaitu era Postmodernisme, manusia sudah jenuh mendengar kebenaran disebut-sebut. Dari postmodernisme, berlanjut ke New Age Movement yang menopengi agama Timur dengan science. Seolah-olah kita berdevolusi menuju takhayul yang dijustifikasi secara science. Zeitgeist di abad ini emang kacau balau dan tidak ada arah. Sejarah tentang progress dari pemikiran manusia hanya menunjukkan apa yang manusia berdosa bisa capai ketika dia melawan Tuhan.

Gejala ini bisa dilihat misalnya di lukisan atau musik dari abad ke abad. Lukisan selalu merefleksikan filsafat hidup yang dipegang oleh si pelukis yang menyaksikan zaman di mana dia berada. Di zaman Renaissance, manusia dianggap tinggi sekali, sehingga melahirkan berbagai lukisan yang indah dengan segala detilnya. Ketika zaman berubah, filsafat manusia pun berubah; ini direfleksikan dari perbedaan lukisan di zaman-zaman lain. Di zaman Spanish Inquisition, lukisan Francisco Goya menggambarkan situasi saat itu. Di daerah Komunis, lukisan-lukisannya selalu menggambarkan kondisi pekerja yang sudah di pabrik-pabrik. Di zaman Modern, lukisan berubah jadi semakin disturbing, misalnya dalam expressionism, contohnya lukisan telinga Van Gogh, atau bahkan lukisan Affandi dan lukisan putrinya. Ini kemudian berangkat ke abstract expressionism, dan seterusnya. Malah di zaman sekarang ada yang namanya Stuckism, yang baru dimulai pada tahun 1999.

Begitu juga dengan perkembangan musik di sepanjang sejarah. Musik pada zaman Medieval, Renaissance, Industrial, dan Modern mempunyai nuansa yang berbeda. Sekali lagi, perbedaan nuansa lagu merefleksikan zeitgeist yang ada di zaman tersebut. Di zaman modern, kita kerap mendengar lagu yang mengumbar nafsu (hip-hop), atau lagu yang monoton dan menghipnotis (techno), atau bahkan lagu semi-depressing seperti di genre minimalist. Tentu saja ada lagu yang masih bagus, tapi kebanyakan lagu-lagu yang di ataslah yang jadi best-seller.

Sejauh ini, sejarah menjadi saksi bahwa Marxisme, Eksistensialisme, Atheisme tidak bisa menyelesaikan masalah existential manusia. Sejarah sudah menunjukkan bahwa komunisme sudah gagal. Ide yang kesannya paling menjunjung harkat manusia malah jadi sarana untuk violate banyak sekali hak asasi manusia. Di sisi lain, Eksistensialisme hanya menunjuk kepada kekosongan hidup, walaupun setidaknya Eksistensialisme lebih jujur dan terbuka untuk mengakui kenapa mereka tidak mau percaya kepada Tuhan. Mereka mengakui bahwa dalam tiap jiwa manusia terdapat kekosongan atau keterasingan yang tidak bisa disembuhkan. Heidegger yang menjadi tokoh penting Eksistensialisme harus mengakui motivasi manusia dari kebudayaan tinggi sampai menjajah orang lain ialah keterasingan atau kekosongan dalam jiwa mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s