Ateis Pragmatis

ateis

Sejak dulu, saya adalah tipe orang yang tidak suka pelabelan. ‘Pelabelan’ yang saya maksud di sini adalah pengkotak-kotakan manusia menurut agama, suku, ras, gender, status sosial, selera, dan lain sebagainya. Pelabelan adalah akar diskriminasi. Namun pelabelan bukannya tanpa manfaat, ini awalnya ada untuk memudahkan kita dalam mengklasifikasikan sesuatu. Dulu saya taunya buaya dan alligator itu sama, eh ternyata berbeda. Sejauh ini pelabelan yang paling menyebalkan adalah yang berbau SARA: Suku, Agama dan Ras, dan yang paling berisik dewasa ini adalah soal agama atau kepercayaan. Hampir setiap hari saya lihat di twitter atau facebook orang-orang berdebat soal keyakinannya, saling serang, saling menghujat, saling membenci. Jangan lupa bahwa 50 tahun yang lalu, label ‘komunis’ mengakibatkan ratusan ribu, kalau bukan jutaan, orang kehilangan hidupnya.

Terkait hal tersebut, sampai saat ini masih ada saja orang-orang yang bertanya kepada saya di mana ‘posisi’ saya, apa label saya, apalagi postingan-postingan yang di blog ini berkali-kali menolak eksistensi tuhan. Hal ini sebenarnya sudah pernah saya jelaskan di postingan bagaimana saya beragama, bahwa sampai sekarang pun saya masih beragama. Tentu saja ini adalah hal yang bertentangan, menolak eksistensi tuhan tapi beragama? Saya sempat kesulitan juga mencari label yang tepat atas hal ini. Namun setelah membaca postingan tentang Tiga Jenis Ateisme di Indonesia, saya pikir saya telah menemukannya. Saya adalah ateis pragmatis.

Berikut yang saya kutip dari website IslamLib tersebut:

Beberapa literatur menyebutnya sebagai “ateisme religius”, tapi saya lebih suka menyebutnya dengan “ateisme pragmatis”. Disebut demikian karena pada dasarnya mereka adalah seorang ateis tapi tetap menjalankan ritual-ritual keagamaan. Kok bisa?

Menjadi ateis di tengah masyarakat yang religius adalah sebuah kutukan. Apalagi jika Anda lahir dan tumbuh dalam lingkungan agama. Terlebih jika karir Anda terkait dengan agama. Mengaku ateis jelas sebuah tindakah bunuh diri.

Seorang ateis pragmatis tidak percaya dengan keberadaan pencipta. Tuhan adalah ide yang absurd untuk dipahami. Alam raya dan kehidupan manusia bisa bekerja tanpa Tuhan. Namun demikian, ateis pragmatis tidak menganggap agama sebagai sesuatu yang harus dimusuhi. Sebaliknya, agama harus didekati dan dimanfaatkan.

Bagaimana mungkin menyatukan antara keyakinan yang ateistik dengan agama? Jawabannya adalah survival. Dorongan untuk bertahan hidup dan mencari status sosial jauh lebih penting ketimbang menunjukkan keyakinan diri yang sebenarnya. Tidak ada gunanya mengaku ateis kalau hanya akan menjerumuskan diri kepada kebangkrutan.

Tapi, bukankah sikap semacam itu disebut “hipokrit” atau bahasa agamanya “munafik”? Kaum ateis pragmatis punya istilah sendiri untuk menyebut sikap mereka, yakni “kecerdasan sosial” (social intelligence). Manusia dituntut cerdas secara sosial untuk bertahan hidup di tengah kompetisi yang sengit. Dorongan untuk terus hidup (survival) adalah insting paling mendasar dalam diri manusia.

Lingkungan yang tidak bersahabat adalah alasan utama mengapa seseorang menganut sikap “ateisme pragmatis”. Ketiadaan pilihan dan keterpaksaan juga merupakan alasan lain mengapa orang mengambil jalan ateisme pragmatis.
There is no harm to do religious rituals. Tak ada salahnya menjalankan (dan kalau perlu mempertontonkan) kegiatan-kegiatan agama (shalat, puasa, haji, pergi ke gereja), sejauh kegiatan ini bisa melancarkan karir seseorang dan mendukung keberlangsungan hidupnya.

Ada masa di mana menurut saya hanya ada dua kubu: teis atau ateis. Jika dirimu mengingkari eksistensi tuhan, maka dirimu adalah ateis. Atau sebaliknya. Agnostik pun saya pandang hanya sebagai pengakuan politis; cari aman; demi menghindari debat yang sepertinya tak memiliki akhir. Saat seseorang berkata bahwa keberadaan tuhan tidak dapat diketahui, bagi saya itu adalah ateis. Agnostik adalah ateis tersamar. Dulu kacamata saya sempat hitam-putih seperti itu. Tak jauh berbeda dengan kaum beragama radikal yang suka mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya.

Tapi saya kemudian mulai menyadari bahwa bersikap seperti itu keliru, atau lebih tepatnya tidak cocok dengan karakter dan kondisi lingkungan saya. Hampir tak ada manfaat langsung yang saya dapatkan jika saya terang-terangan mengaku ateis. Dan jika demikian, buat apa saya mengambil risiko? Tentu semangat untuk berbagi pengetahuan akan terus ada, namun untuk nyindir, nyinyir, bahkan menjelek-jelekkan agama secara terbuka, menurut saya dapat menimbulkan ketidaksukaan bahkan kebencian baru. Saya akan tetap menghormati prinsip kawan-kawan ateis yang mengkritik agama dan kepercayaan secara frontal, karna sesekali pun saya mungkin akan melakukannya. Hoho. Yang saya harapkan adalah apapun yang kita yakini, jangan fanatik. Tak perlu memandang mereka yang berbeda keyakinan sebagai lawan.

Di akhir postingan ini, saya ingin memberi peringatan: Ateis pragmatis itu nyata, mereka ada di sekitar kita. Namun tak perlu waspada apalagi khawatir, karna mereka memang tidak berbahaya. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s