Ateis Pragmatis

ateis

Sejak dulu, saya adalah tipe orang yang tidak suka pelabelan. ‘Pelabelan’ yang saya maksud di sini adalah pengkotak-kotakan manusia menurut agama, suku, ras, gender, status sosial, selera, dan lain sebagainya. Pelabelan adalah akar diskriminasi. Namun pelabelan bukannya tanpa manfaat, ini awalnya ada untuk memudahkan kita dalam mengklasifikasikan sesuatu. Dulu saya taunya buaya dan alligator itu sama, eh ternyata berbeda. Sejauh ini pelabelan yang paling menyebalkan adalah yang berbau SARA: Suku, Agama dan Ras, dan yang paling berisik dewasa ini adalah soal agama atau kepercayaan. Hampir setiap hari saya lihat di twitter atau facebook orang-orang berdebat soal keyakinannya, saling serang, saling menghujat, saling membenci. Jangan lupa bahwa 50 tahun yang lalu, label ‘komunis’ mengakibatkan ratusan ribu, kalau bukan jutaan, orang kehilangan hidupnya. Continue reading

Advertisements

Kritik Atas Modernisme

Mengapa “takhayul” masih subur di negeri ini,
jika bukan karena tanah ini mengandung roh-roh?

Jika bukan lantaran roh-roh masih bersemayam di tanah ini, tentulah karena hal lain.

Yaitu karena kita masih merasa ada yang salah dengan “takhayul”?

Tapi mengapa kita menganggap salah “takhayul”?

Karena kita telah berkenalan dengan cara pikir modern. Kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak bisa dibuktikan dan diterangkan akal sehat.
Continue reading

Better Off without God?

Tulisan ini saya copy paste dari sebuah artikel yang berjudul sama karna isinya cukup bagus, namun di beberapa bagian kecil dan bagian akhirnya tidak saya masukkan karna menurut saya menawarkan solusi subyektif dangkal yang ‘menodai’ paragraf-paragraf sebelumnya, terutama karna tidak membahas sains sama sekali. Namun artikel aslinya bisa dibaca di sini –> Better Off without God?

Selamat menyimak.

Setelah “Da Vinci Code”, buku “The God Delusion” adalah salah satu best-selling book yang sudah menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak muda. Buku ini telah membakar semangat atheis-atheis muda untuk “menginjili” orang-orang di sekitarnya supaya convert ke atheisme. “Penginjilan” tersebut sudah menyebar secara luas melalui internet dan “Convert’s Corner“. Tren ini tidak kalah dengan terbitnya buku lain karangan The Letter to a Christian Nation yang dengan gencarnya menyerang kekristenan di Amerika, sampai-sampai digelar “God Debate” antara Sam Haris dan Rick Warren. Continue reading